Saturday, April 19, 2008

Mari Kita Memilih Tuhan

Tuhan sebuah ada yang sangat abstrak.  Tuhan dipercaya hadir dan punya kuasa di alam semesta, tapi tak terjangkau oleh akal pikiran dan panca indera. Manusia selalu tertarik dengan segala macam bentuk kekuatan yang lebih hebat melebihi diri mereka. Pencarian akan kekuatan Yang Maha itu ada sebuah pencarian turun temurun dari generasi - generasi awal manusia dulu sampai  hingga zaman ini berakhir.

Lalu bagaimana kita akan mencari akan sesuatu yang tak nampak, dan tak seorangpun di bumi ini pernah menjumpainya secara langsung? Dan bagaimana kita bisa tahu dan percaya bahwa yang kita temukan nanti dalam pencarian kita adalah sosok tuhan yang sebenarnya? Sebuah misteri terbesar dalam kehidupan manusia. Disini agama-agama hadir untuk mencoba sedikit memberi jalan terang pada manusia dalam menyibak misteri tentang ketuhanan. Agama bukan satu-satunya jalan untuk mencari tuhan, Agama memberikan kita panduan termudah untuk bisa merasakan kehadiran tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi dengan begitu banyaknya agama yang ada dimuka bumi, dengan paparan tentang tuhan dalam versinya masing-masing, manusia dihadapkan sekali lagi pada sebuah kebingungan baru, agama manakah yang membawa kearah tuhan yang benar?  Tuhan yang sebenar-benarnya tetap menjadi misteri bagi manusia hidup. Melalui sifat-sifat yang muncul dari ajaranya-lah, kita dapat mencermati apakah tuhan yang selama ini kita percayai melalui agama, adalah benar tuhan yang sebenar-benarnya?

Kebenaran akan tuhan. Kebenaran sebagai kata kuncinya. Jika kata kebenaran diganti, maka kata tuhan yang mengikutinya jadi tak berarti. Kata benar yang membuat kata tuhan punya arti. Kebanaran tentang tuhan yang berlaku di dalam agama, haruslah kebenaran yang sejati, bukan kebenaran hanya karena klaim semata. Kebenaran sejati pun sebuah kata yang definisinya susah untuk disepakati bersama. Tapi kebenaran sejati memiliki sifat-sifat dasarnya yang walaupun orang tidak mengerti akan definisinya tetap masih bisa merasakan hakikatnya. Kebenaran sejati mempunyai sifat yang selaras dengan hati nurani manusia. Selaras tanpa menimbulkan pertentangan, pertanyaan dan pemaksaan. Contoh –contoh kebenaran sejati bisa kita temui pada alam sekitar kita. Orang tidak perlu berdebat, atau dipaksa untuk mengakui bahwa cabai itu pedas, bahwa api itu panas, bahwa es situ dingin atau bahwa batu itu keras. Cabai dikatakan benar sebagai cabai karenanya sifat-sifatnya. Sifat cabai yang utama adalah pedas. Kalau ada benda yang betuknya sama persis seperti cabai tapi mempunyai rasa yang manis, maka benda itu tidak layak disebut cabai. Hal demikian juga berlaku untuk kebenaran batu, api, es dan benda – benda lainnya termasuk kebenaran akan tuhan. 

          Bagi para penganutnya, ajaran agama dipandang sebagai sebuah hal yang sacral karena bersumber dari firman-firman tuhan sendiri. Orang akan dengan mudahnya menarik kesimpulan bahwa karena agama adalah sabda tuhan, dan tuhan itu maha benar, maka agama adalah mutlak kebenarannya. Kesimpulan tersebut adalah sebuah kesimpulan yang berbahaya. Karena bisa dikatakan kalau ada ajaran agama yang salah atau buruk karena bertentangan dengan hati nurani kemanusiaan secara umum, maka dapat disimpulkan bahwa tuhan yang merupakan sumber dari ajaran itu adalah tuhan yang salah atau tuhan yang buruk juga!? Dalam teori komunikasi, setiap pesan yang disampaikan oleh komunikan akan selalu berhadapan dengan noise atau gangguan sehingga reduksi pesan adalah hal yang sangat wajar terjadi. Demikian pula dalam agama. Pesan tuhan tidak pernah datang langsung bergema nyaring dari langit. Pesan-pesan tersebut selalu datang melalui perantara. Manusia sebagai perantara mempunyai latar belakang budaya, adat istiadat, pemikiran, politik, dan keinginan-keinginan manusiawi lainnya yang sedikit banyak dapat mereduksi pesan dari tuhan tersebut. Karena sifat dasar tuhan yang serba Maha dan mempunyai kebenaran yang mutlak, kalau ada ajaran agama yang isinya menyimpang bisa muncul berbagi kemungkinan seperti ; kesalahan si pembawa pesan dalam menyampaikan pesan tuhan atau pesan itu bukan datang dari tuhan.
 
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membedakan ajaran tuhan yang benar dengan yang ajaran tuhan yang menyimpang? Hal ini bisa kita cermati dengan mengenali sifat-sifat dari sebuah “kebenaran sejati”, yang diantaranya :

Sifat Tuhan adalah Maha Baik, Maka ajaranya haruslah baik.
Kata baik bisa bermakna sangat relatif, sangat subyektif. Tetapi bila kita cermati lebih dalam, hati setiap manusia telah dilengkapi dengan yang namanya nurani yang secara alamiah akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menyakiti orang lain, membunuh, berperang, secara alamiah akan dinilai buruk oleh nurani manusia. Sebaliknya, senyuman, keramahan, cinta kasih, secara alami akan dinilai oleh nurani sebagai sebuah hal yang baik.

Tuhan itu Maha Kuasa, maka ia tidak perlu memaksakan kebenaran ajaranya.
Kebenaran tuhan mempunyai sifat dasar yang baik. Manusia telah dibekali dengan nurani untuk memilih kebaikan diantara keburukan. Maka sudah semestinya kalau ajaran tuhan itu akan selaras dengan hati manusia. Kebenaran ajaran tuhan akan diterima dengan senang hati tanpa perlu pemaksaan bahkan ancaman. Mengkukuhkan kebenaran sebuah ajaran dengan cara merendahkan dan menjelek-jelekan ajaran lain tanpa fakta yang jelas adalah sebuah kekeliruan besar. Kebenaran yang harus diakui dengan jalan merendahkan kebenaran yang lain, justru menimbulkan keragu-raguan. Ia juga tidak perlu merasa tersaingi dan lalu membenci bila muncul berbagai konsep ketuhanan yang berbeda dalam kelompok-kelompok manusia (agama). Jika masih ada rasa marah dan benci karena konsep ketuhan yang lain dari dirinya, maka tuhan tak lagi maha kuasa!
Sifat Tuhan adalah Kekal, maka kebenaran ajarannya haruslah kekal.
Ajaran-ajaran tuhan yang termuat dalam agama harus mempunyai makna dan sifat yang kekal. Bila ajaran itu bisa diterapkan pada 1000 tahun lalu, maka harus bisa diterapkan lagi secara relevan dalam 1000 mendatang dan sampai saterusnya. Hukum tuhan adalah kekal mengatasi ruang dan waktu. Bila hukum tuhan tersebut terhambat oleh kemajuan zaman, tidak mengatasi lajunya zaman, atau bertentangan dengan keadaan pada masa kini dan mendatang, maka perlu diragukan asal-usulnya.
Tuhan itu Maha Tinggi, Hukumnya harus mengatasi semua hukum buatan manusia.
Hukum tuhan posisinya harus diatas hukum manusia. Hukum tuhan adalah dasar untuk melaksanakan hukum manusia. Jangan sampai kitab suci kalah dihadapkan dengan KHUP! Sangatlah lucu kalau kita harus diganjar dengan hukuman pidana setelah kita terbukti di hadapan sidang secara sah dan meyakinkan, bersalah karena melakukan perbuatan yang bersumber dari hukumnya tuhan?

Tuhan Yang Maha Esa = Tuhan Yang Satu untuk semua manusia.
Bagi para kaum monoteis, kepercayan tentang sebuah ada yang tunggal sebagai penguasa alam semesta adalah sebuah kepercayaan yang sempurna. Dia yang satu, yang menciptakan dan mengayomi beribu-ribu benda nan majemuk, haruslah mempunyai sifat yang universal. Universal berarti bahwa tuhan bisa diterima siapa saja dan mau menerima siapa saja. Ajarannya juga harus universal, bisa masuk kesetiap budaya dan keragaman hidup manusia dengan sekali lagi tanpa paksaan. Ajaran tentu saja bukan hanya milik bangsa tertentu, bahasa tertentu, kelompok tertentu atau hanya agama tertentu saja. Tuhan itu untuk semua orang, bahkan untuk orang –orang yang tidak mempercayainya sekalipun. Cuma manusia yang suka membatasi dirinya dengan pagar-pagar kesukuan, ras, bahasa, dan agama. Kalau tuhan juga memiliki sifat tersebut, apa bedanya dengan manusia? Ia tak layak lagi diberi gelar “Maha”!

Urain diatas berdasarkan pada logika-logika sederhana. Memang benar kalau tuhan itu berada diluar jangkaun pikiran kita, tapi ajarannya sebagai interprestasi dari dirinya sendiri mestinya bisa dinalarkan melalui logika berpikir manusia. Ajaran itu datang untuk manusia, untuk dilaksanakan oleh manusia dan demi kebaikan hidup manusia, maka harus bisa masuk ke logika pemikiran manusia.

Mari kita cermati ajaran dalam agama kita, apakah sesuai dengan sifat-sifat asalnya yang dari tuhan? Bila muncul keraguan itu pertanda baik. Keraguan adalah langkah pertama agar kita semakin dekat mengenal tuhan. Kalau kita tidak berani untuk ragu-ragu dan melakukan instropeksi, kita akan berdiam diri karena merasa sudah mengenal tuhan dengan dekat. Tapi apakah tuhan juga telah dekat mengenal kita?

Posted by Saya at 04:38:38 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, April 9, 2008

Kebenaran Akan Tuhan yang Tak Terbatas

Benar atau tidak benar, selalu merupakan pengakuan dari pihak diluar dirinya bukan dari diri sendiri.
Kebenaran itu selaras tanpa pertentangan dan tidak perlu dipaksakan untuk diakui.

 

Tuhan sebagaimana tuhan yang dikenal oleh manusia secara umum merupakan sebuah ada yang mempunyai sifat-sifat tertentu agar layak disebut tuhan. Manusia mengenal tuhan melalui sifat-sifatnya, seperti halnya manusia yang tak bisa melihat arus listrik tapi tahu kalau arus listrik itu ada dari sifat dan gejala yang muncul karena keberadaan benda tersebut.  Sifat tuhan sebagai penguasa alam semesta haruslah serba maha; maha tahu, maha esa, maha kasih, maha pengampun, maha mengerti, maha baik, maha besar, dll. Bisa dikatakan secara sederhana, jika sosok tuhan sebagai sebuah ada yang lebih besar dari segala ada yang terdapat di alam semesta ini, Ia harus memiliki sifat yang tak terbatas. Tuhan haruslah tak terbatas, tidak mempunyai batas, dan universal. Kalau tuhan mempunyai sedikit saja sifat keterbatasan dalam dirinya, maka ia tidak layak disebut tuhan karena mempunyai sifat yang tidak  lebih dari alam semesta yang dicipta dan dikuasainya. Keterbatasan dan ketidakterbatasan adalah sifat utama yang membedakan tuhan dengan segala unsur di alam semesta.

Manusia selama hidupnya selalu mencari kebenaran tentang tuhan. Dari zaman ke zaman, manusia selalu kagum dan tertarik dengan kekuatan-kekuatan yang melebihi dirinya. Sebab itu pulalah yang menjadikan adanya kepercayaan terhadap dewa-dewa kuno yang merupakan personifikasi manusia terhadap kekaguman mereka pada fenomena alam disekelilingnya. Dari kekaguman terhadap fenomena alam meningkat pada pertanyaan tentang siapa yang mengatur semua gerak semesta itu? Dengan keresahan baru inilah yang akhirnya mengarahkan manusia kepada sosok tunggal yang berkuasa mengerakan semua unsur semesta, yang kini umum dikenal sebagai tuhan. Kekuatan tunggal penguasa semesta ini sampai sekarang tetap langgeng menjadi dasar dari agama-agama monotheis di dunia.

Sesuai dengan sifat dunia yang serba terbatas, pengetahuan tentang tuhan-pun juga terbatas. Pengetahuan sendiri secara hakiki adalah muncul dari pemahaman akan sesuatu yang yang pasti dan mempunyai bukti. Diluar dari unsur kepastian yang ada, pengetahuan tidak lebih dari asumsi dan prediksi belaka. Pengetahuan tentang tuhan mempunyai keistimewaan karena pengetahuan tersebut bergerak dari nilai-nilai kepercayaan semata. Karena memang sifat tuhan sendiri yang absolut tanpa batas tak mungkin terengkup sepenuhnya dengan akal pikiran manusia manapun juga. Tuhan yang tidak dapat dibuktikan secara langsung, dipercayai sebagai sebuah pengetahuan yang pasti adanya.
 
Pengetahuan akan tuhan biasanya didapatkan manusia melalui literatur –literatur agama. Setiap agama mempunyai versi tersendiri dalam mengambarkan tuhan. Hal tersebut sangat wajar karena tiap-tiap agama muncul melalui budaya dan zamannya masing-masing. Unsur budaya setempat dan keadaan sosial politik tempat agama itu muncul, tidak dapat dipungikiri ikut memberi warna pada pengetahuan tentang tuhan. Hal ini mengakibatkan bahwa manusia mengenal tuhan sebegai sosok yang dengan karakter yang berbeda-beda tapi tetap dengan satu sifat utamanya yang serba tak terbatas. Beda dalam hal ajaran tentang tuhan adalah wajar, tapi saling mempertentangkan tentang ajaran akan kebenaran satu tuhan diatas tuhan yang lain adalah hal yang tidak wajar dan sangat bodoh. Karena memang tak seorang manusiapun pernah bertemu secara langsung dengan tuhan sendiri. Manusia hanya dibekali cerita dari orang-orang terdahulu para pendiri agama dan kepercayaan  tentang siapa itu tuhan. Dan kebenaran dari segala unsur cerita yang menyertai kisah lahirnya agama-agama pada masa lampu belum tentu 100% benar sesuai kejadian aslinya. Kita tak pernah bisa yakin benar secara ilmiah bahwa misalnya, apakah benar Yesus bangkit dari mati, jangan-jangan Ia hanya sekarat saja waktu turun dari salib, atau bahkan Ia tak pernah disalibkan sama sekali? Atau dari mana kita tahu kalau Sidharta mendapat pencerahan tertinggi, jangan – jangan ia hanya berhalusinasi karena terlalu sering puasa dan bermati raga? Dan dari mana dapat dibuktikan bahwa suara yang didengar Muhammad di Gua Hira adalah suara malaikat Jibril, bukannya suara Jin Ifrit atau yang lainnya? Itulah hebatnya agama, bisa memberikan pengetahuan tentang tuhan tanpa mampu membuktikan secara pasti. Jadi bisa disimpulkan bahwa sifat kebenaran akan pengetahuan tentang tuhan dalam agama-agama, adalah pengetahuan yang benar hanya karena dan jika kita mempercayainya. Tentang kebenaran tuhan itu seperti apa sebenar-benarnya, masih menjadi misteri.
 
Letak konflik antar agama ditimbulkan oleh satu masalah utama yaitu perbedaan pandangan tentang kebenaran tuhan dalam versinya masing-masing.  Tuhan yang benar adalah tuhan menurut versi agama saya, versi agama lain salah dan sesat, maka mereka sebenarnya tidak layak disebut umat tuhan, mereka adalah kafir! Pernyataan itulah yang sangat dahsyat efeknya untuk bisa memprovokasi hati agar membenci atau bahkan menghancurkan pemeluk agama lain. Suatu aliran kepercayaan dianggap benar atau salah, bukan ditilik  dari baik atau buruknya ajarannya, tetapi hanya karena konsep tuhan yang berbeda saja. Padahal ajaranlah yang seharusnya menjadi titik perhatian umat manusia. Ajaran dalam hal ini adalah nilai-nilai yang terdapat dalam suatu agama yang dapat dipakai oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam penerapannya, nilai-nilai hidup dari ajaran agama harusnya lebih dipentingkan daripada pada konsep tentang tuhan itu sendiri. Dalam teori komunikasi, pesan (messege) selalu mendapat tempat lebih tinggi dari pada si pembawa pesan (komunikator).  Agama - agama seharusnya sepakat bahwa perilaku manusialah yang akan dinilai kelayakannya untuk dihadiahi surga atau nereka, bukan berdasarkan dari konsep ketuhanan yang mereka percayai. Suatu pertanyaan yang dapat menggambarkan permasalahan di atas yaitu;  Misalnya konsep ketuhanan yang benar adalah hanya konsep ketuhannya umat Islam, apakah Suster Theresa yang seorang pejuang kemanusiaan tetap dianggap sebagai pendosa hanya karena mempercayai konsep ketuhanan secara katolik? Mahatma Gandhi juga dianggap pendosa hanya karena  Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Hindu? Dai Lama juga dianggap pendosa hanya karena  Ia mempercayai konsep ketuhanan secara Budha?

Ajaran yang memberikan pandangan bahwa agama yang lain adalah salah, sesat atau kafir karena memiliki konsep ketuhanan yang berbeda dengan agama yang dianutnya sendiri adalah sangat bertentangan dengan sifat tuhan yang tak terbatas. Bila tuhan hanya mengakui umat tertentu saja dan memilih umat berdasarkan konsep ketuhanan yang mereka percayai serta mengajarkan untuk membenci bahkan memerangi umat lain yang mempunyai konsep ketuhanan yang berbeda, itu sudah sangat membuktikan bahwa tuhan yang seperti itu adalah tuhan yang sangat terbatas.  Bila tuhan mempunyai sifat semacam itu, maka ia tak layak lagi diberi lebel MAHA. Supaya tuhan tetap maha, tetap tak terbatas, seharusnya ia terbebas dari semua sekat yang ada. Sekat kesukuan, sekat bahasa, sekat geografis, sekat budaya, sekat negara, bahkan sekat agama sekalipun.

 

 

Solo, 2007-10-11

Posted by Saya at 07:19:38 | Permalink | Comments (5)

Orang Bilang Tentang Tuhan

 Orang bilang Tuhan itu Maha Segalanya
Tapi mengapa Ia terjebak dalam satu bentuk susunan huruf saja.
Susunan huruf yang diberi mahkota
Diberi tahta mulia
Dihormati lebih dari Sang Makna yang dikandungnya.

Orang bilang Tuhan itu Maha Mengampuni
Mengapa menyuruh umatnya untuk membalas?
Dan boleh membunuh atas namaNya!
Mengahalalkan darah orang yang memusuhinya?

Orang bilang Tuhan itu Seniman Tertinggi
Ia menciptakan karya yang paling indah dan sempurna
berupa jagat raya
Mengapa Ia melarang orang berekspresi?
Dan dengan begitu bodoh merasa tersaingi ketika
ada seniman membuat patung atau gambar atas ciptaanNya?

Orang bilang Tuhan itu Maha Mengetahui
Mengapa ia hanya mengenal satu bahasa saja?
Dan hanya menerima satu macam budaya saja?
Untuk apa Ia menciptakan dunia dengan penuh warna?

Orang bilang Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Sempurna
Bukan manusia yang lemah ini tidak perlu membelaNya?
Setitik gula takkan bisa membuat lautan menjadi manis.
tak ada satupun perbuatan manusia yang bisa
menggoyahkan kekusaanya.
Tak satupun hujantan manusia yang bakal melunturkan
kesempurnaanNya.
Dan tak ada satupun perbuatan manusia yang dapat
Menambah kekuasaan dan kesempurnaanNya!

Orang bilang Tuhan itu Maha Kasih
Mengapa mengajarkan memberi kasih yang pilih-pilih?
Mengapa tidak merestui cinta yang datang dari
dua pemahaman berbeda tentang dirinya Nya?
padahal Dia sumber dari segala cinta.
Untuk sebuah perasaan yang muncul secara naluriah yang berasal dari diriNya juga,
dan ketika perasaan itu bersemi sebagai cinta, di halang-halang sendiri oleh
perintah-perintah suciNya.

Orang bilang Tuhan itu Maha Tinggi
Tapi orang juga dengan seenaknya mengkerdilkanNya.
MengkerdilkanNya dengan apa yang dikenal orang sebagai buah ajaran
dari mulutNya sendiri, yaitu AGAMA.
Dan bila Tuhan itu Satu dan Universal sifatnya, Mengapa Ia Punya Satu Agama
Sangat tidak konsisten dengan sifat penciptaanNya yang serba Majemuk !?


Solo, 25 Juli 07
Posted by Saya at 04:20:54 | Permalink | No Comments »

Tuesday, April 8, 2008

PENYELENGGARAAN ILAHI DALAM TIGA PERAHU PENYELAMAT

Seorang  imam  duduk  di  muka meja dekat jendela menyiapkan
khotbah tentang Penyelenggaraan Tuhan, ketika  ia  mendengar
sesuatu seperti ledakan. Segera ia melihat orang lalu-lalang
berlari-lari dalam kepanikan dan menemukan, bahwa  bendungan
telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan.
 
Imam  melihat air semakin tinggi di jalanan bawah. Ia merasa
sedikit sulit menekan rasa panik yang mencengkam, tetapi  ia
berkata:  “Di  sini  aku  sedang  menyiapkan khotbah tentang
Penyelenggaraan Tuhan, dan  aku  mendapat  kesempatan  untuk
mempraktekkan   khotbahku.   Aku  tidak  akan  lari  seperti
lainnya. Aku akan tetap tinggal di  sini  dan  percaya  akan
penyelenggaraan ilahi untuk menolong aku.”
 
Ketika  air  sudah  sampai  di  jendela,  perahu penuh orang
lewat. “Naiklah, pastor” teriak  mereka.  “Ah  tidak  anak,”
kata  Pastor  penuh  percaya.  “Aku  percaya Penyelenggaraan
Tuhan akan menolong aku.”
 
Pastor memang betul naik ke atap, tetapi ketika  air  sampai
di  sana ,  seperangkat  orang  dalam  perahu lewat, mendesak
pastor agar naik, sekali lagi ia menolak.
 
Kali ini ia naik ke puncak menara lonceng. Ketika air sampai
di  lututnya,  seorang  petugas  dalam  perahu motor dikirim
untuk  menolongnya.  “Terimakasih,  saudara,”  kata   Pastor
dengan  senyum  tenang.  “Aku percaya kepada Tuhan. Ia tidak
akan meninggalkan aku.”
 
Ketika pastor tenggelam dan naik ke surga, pertama-tama yang
ia   lakukan  ialah  mengeluh  kepada  Tuhan.  “Aku  percaya
kepada-Mu.  Mengapa  Engkau  tidak  berbuat  apa-apa   untuk
menolong aku.”
 
“Ah,” kata Tuhan. “Aku sudah mengirim perahu tiga kali.”
 
(DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
 Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)


Saya pernah di doktrin oleh orang kristen yang fanatik Injil, tentang penyelenggaraan Ilahi.

Kata Si Fanatikan itu, Nggak perlu mencari pemecahan masalah secara duniawi, cukup serahkan semuanya dengan penuh iman kepada kuasa Tuhan, Kalau Kamu beriman dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan, kamu nggal perlu Dokter untuk menyembuhkan sakitmu, nggak perlu membaca buku ilmu ini itu, semua ilmu sudah ada di Injil, nggak perlu giat bekerja karena rezeki diatur oleh Tuhan, cukup berkarya demi kerajaan Allah saja”.
Sebagai seorang yang mencintai Ajaran Yesus juga, hal yang paling aku sedihkan dari pernyataan orang tersebut adalah karena pikiran-pikirannya tersebut bukan hanya sebuah kebodohan individual, melainkan sebuah doktrin sempit yang sudah menjadi landasan pemikiran secara sistematik dari sebuah gereja yang mempunyai jemaat cukup besar di kotaku. Menutut ajaran gereja tersebut, Tuhan dipersonifikasikan selayaknya tukang sulap yang karyanya selalu ajaib, atau bagai seorang debitur yang bisa membayar hutang –hutang umatnya dengan cara-cara yang ajaib pula, atau tukang obat, dukun, atau konsultan bisnis. Mereka sangat memuja muzijat dan keajaiban. Semua doa, nyanyian dan pujian, mereka ditujukan agar mudah dapat mujizat. Memang benar Tuhan bisa melakukan semua itu, orang-orang berimanpun pasti akan mempercayainya. Tetapi menyempitkan Kuasa Tuhan adalah sebuah kemunduran dalam nilai-nilai keimanan yang sejati.
 

Bahaya dari pemikiran ini adalah :

  1. Iman Kristen yang Instan; yaitu beriman kepada ajaran Kristus demi mujizat semata. Hal ini merupakan sebuah bentuk penerdilan dari sifat-sifat Tuhan yang seharusnya.
  2. Introfet dan Ekslusife; umat akan terfokus pada puji-pujian semata, doa semata, karena menurut mereka itulah syarat bisa dapat mujzat. Kadang mereka lupa akan peringatan Yesus bahwa Iman tanpa Perbuatan adalah MATI! Kegiatan mereka hanya diisi dengan pujian, membaca injil siang dan malam, kesaksian tentang mujizat yang dialami, atau mengiklankan mujizat-mujizat tersebut melalui berbagai media masa. Perbuatan kasih yang sebenarnya adalah sebuah nubuat yang hidup atau pengejawantahan iman menjadi luntur dan terpinggirkan. Agama jadi sarana pemenuhan kebahagian diri sendiri. Bahkan mereka menganggap Iman lebih penting dari pada Cinta Kasih itu sendiri.
  3. Kurang Rasa Bersyukur; Mereka selalu memaknai Mujizat sebagai peristiwa-peristiwa besar nan ajaib, seperti orang sakit lumpuh karena stroke setelah di doakan langsung bisa berjalan, usaha mau bangkrut setelah didoakan langsung bisa berkembang dengan baik, dll. Umat jadi kurang menaruh syukur pada peristiwa sehari-hari yang semuanya juga merupakan mujizat dari kuasa Tuhan. Orang bisa hidup bernafas, matahari terbit, benda-benda angkasa bergerak pada jalurnya, alam yang indah, langit yang biru, hasil bumi, teman baik, keluarga, nyamuk yang menggigit kita, itu semua adalah bentuk-bentuk mujizat Tuhan Juga.
  4. Malas dan tidak realistis; karena menganggap semua hal akan langsung diberikan oleh Tuhan secara ajaib, maka banyak umat yang jadi malas dan bersikap tidak realistik.
  5. Tidak Ikhlas; Cinta akan Yesus haruslah merupakan cinta yang benar-benar tulus. Orang sering bilang, Aku iklas melakukan kebaikan ini, biar Tuhan saja yang membalasnya. Dua pernyataan yang paradoksal digabung menjadi satu. Yang namanya Ikhlas dan tulus harusnya tidak mengharap imbalan apapun baik di bumi maupun dari surga.
  6. Penyalahgunaan; Mujizat bisa disalahgunakan untuk kepentingan kelompok semata, atau bahkan kepentingan materi semata. Mujizat adalah cara yang paling efektive untuk menarik pikiran-pikiran sederhana agar tertarik pada Tuhan, atau tertarik menjadi umat di gereja tertentu karena di gereja tersebut banyak terjadi mujizat. Disini, mujizat Tuhan menjelma menjadi sebuah iklan yang manjur untuk menarik umat masuk ke gereja tertentu.

Melalui renungan dari Pastur Demello di atas, ada sebuah ajakan untuk lebih membuka hati dan pikiran atas semua pemeberian Tuhan dalam hidup kita. Pemberian tersebut tidak harus dan tidak selalu muncul dalam hal-hal yang ajaib. Mujizat dalam kesehariannya tampil melalui orang-orang di sekitar kita dalam peran mereka masing-masing. Dokter, orang tua, guru, anak, pedagang, supir, pendeta, polisi, dll, adalah perpanjangan tangan Tuhan agar mujizatnya bisa sampai ke dalam hidup umatnya. Dengan menyadari hal tersebut, hati akan lebih bersyukur dengan segala yang kita terima dan makin menyadari bahwa Tuhan hadir dan melingkupi segala sisi dari hidup ini.
 
Wasallam……

Posted by Saya at 12:55:09 | Permalink | No Comments »

Ketika Tuhan BerIklan

Ketika Tuhan Ingin memperkenalkan diri dan ajaran-ajaranNya ke tengah dunia, Maka  Ia beriklan. Bayangkan kalau Ia tidak mengiklanya diriNya, maka manusia mungkin tidak tahu kalau Ada yang NamaNya Tuhan di alam semesta ini. Sama seperti produk lainnya, hal terpenting dari sebuah iklan adalah posisioning. Posisioning agar mudah di cerna oleh para manusia di dunia perlu adanya proses ikonisasi yang berupa simbol-simbol. Maka Tuhan menyimbolkan diri dan ajaran-ajaranNya melalui; Yesus untuk orang Kristen, Sidharta Budha Gautama untuk orang Budha, Siva untuk orang Hindu, dll. Simbol disini memegang peranan sangat penting agar manusia punya acuan untuk membayangkan dan menginterprestasikan Sifat-sifat Tuhan yang tak tampak. Simbol dengan yang di simbolkan tidak dapat dipisahkan karena pada hakikatnya adalah satu, simbol merupakan sarana pendekatan agar ide tentang Tuhan lebih mudah diterima. Sehingga, Tuhan tak perlu datang secara  absolute ke tengah dunia sendiri karena justru membuat orang mabuk ketabjukan. Satu alasan simple hal itu tidak dilakukanNya karena ide Tuhan yang secara langsung hadir tak bisa masuk ke dalam benak manusia yang terbatas. Maka Tuhan memilih simbol tentang dirinya yang mudah diterima oleh benak manusia yaitu berupa manusia juga. Tanpa Simbol, orang hanya bisa samar-samar menebak Sifat Tuhan. Tanpa Simbol, Tuhan bisa diartikan dan sesuai kehendak manusia, bahkan Tuhan bisa di beri label-label sifat yang hanya untuk mencari keuntungan manusia sendiri. Adanya Simbol Tuhan Yang Hidup di Bumi Manusia, tidaklah mengurangi kemuliaan Tuhan. Tuhan sejati adalah tanda atau ide, sedangkan symbol-simbolnya adalah penanda. Seperti halnya ikon dalam desktop computer kita. Gambar Komputer mewakili aplikasi My Computer, Gambar Tong Sampah mewakili aplikasi Recycle Bin, dll. Tanpa ikon-ikon kita kesulitan untuk mengakses file, program dan aplikasi yang kita inginkan. Ketika kita me-double click ikon maka terbukalah file, program dan aplikasi yang diinginkan. Demikinan juga dengan symbol Tuhan. Ketika kita menaati Perbuatan dan perkataan Para Symbol Tuhan, kita menaati Tuhan. Karena dengan mengenal symbol maka kita akan mengenal Apa Yang Di Simbolkan juga, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.

Setelah memilih Simbol, maka perlu bentuk penyampaian  yang sesuai dengan segment-nya. Sifat Tuhan adalah Universal, tapi manusia yang menerimanya mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Dari faktor geografis, kebangsaan dan budaya sangat berpengaruh terhadap penerimaan pesan-pesan yang disampaikan. Tuhan sadar betul akan pentingnya field of experience and preference dari manusia untuk ke efektifan proses komunikasiNya. Maka ia hadir dengan Iklan yang dibuatNya dalam berbagai versi. Dari versi-versi inilah muncul berbagai ajaran di dunia yang untuk memudahkan manusia menyebutnya dengan agama. Walaupun berbagai versi dimunculkan, Tuhan sangatlah pintar untuk tidak melupakan bahwa akan bagaimanapun pesanNya dimuat, akan dibuat jutaan versi dengan simbolnya masing-masing sekalipun, tetap harus sebagai sebuah pesan tunggal.  Kasih dalam Tuhan dan Sesama adalah sebuah pesan tunggal Tuhan dari setiap versi iklannya dalam bahasa dan versi apapun. Ada istilah-istilah muncul selanjutnya seperti, Hukum Cinta Kasih, Ukuwah, Sepuluh Perintah Allah, Dharma, Shamadi, semuanya itu mengacu pada satu hal yang sama. Pesan tunggal yang dikemas dalam berbagai bentuk tetap harus universal dan tidak membuat pertentangan antara versi Iklan satu dengan yang lainnya. Universal disini adalah harus bisa masuk dalam semua sisi kehidupan manusia dibelahan bumi manapun, bangsa apapun, hukum apapun, sampai kapanpun. Sangatlah mustahil bila sebuah pesan dalam iklan bisa diharapkan keefektifitasannya tapi hanya muncul dalam satu versi iklan saja, apalagi dalam kemasan satu bahasa saja, untuk seluruh umat manusia yang sangat beragam.
 
Setelah memunculkan berbagai symbol dan versi iklan tentang sifat dan ajaranNya, Tuhan juga memerlukan Marketing dan PR untuk memperkenalkan dirinya. Lagi-lagi karena keterbatasan pikiran manusia, setelah ada iklan perlu diadakan pengenalan lebih dalam lagi atas pesan-pesan Tuhan agar benar-benar efektif. Para Marketing dan PR ini bertugas menggiring manusia ke tingkat action. Setelah tahu, kenal, dan paham, tahap terakhir keberhasilan sebuah pesan dalam iklan adalah adanya tindakan dari komunikan. Karena yang diiklannya adalah ajaran hidup, maka yang harus dilihat adalah buah kehidupan dari manusia itu sendiri. Bila manusia bisa menerapkan kasih sebagai pesan tunggal Tuhan dalam setiap sisi kehidupannya, maka Iklan yang dibuat Tuhan berhasil. Peran Marketing dan PR haruslah tidak seperti penjual obat di pinggir jalan yang hanya menjual kata-kata saja. Sebelum ber-marketing, mereka harus paham betul produk yang dibawanya. Penguasaan akan product knowledge adalah mutlak agar mereka tidak justru menyesatkan pikiran manusia dan semakin jauh dari pesan awal dari iklanNya Tuhan. Akan lebih baik bila mereka bisa meberi contoh nyata melalui hidupnya sendiri agar walaupun mereka sedang tidak buka mulut, proses marketing dan ke-PR-an itu tetap terus berjalan. Pada hakikatnya semua manusia adalah marketing dan PR dari sifat-sifat Tuhan, tapi memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan lebih karena bakat alam atau memang khusus belajar tentang hal tersebut. Sebuah strategi marketing yang handal adalah dengan menjadikan semua orang yang pernah kita prospek jadi marketing pula pada akhirnya, sehingga pesan akan semakin cepat tersebar dengan luas. Bermacannya simbol dan versi iklan Sifat Tuhan, menciptakan banyak marketing yang masing-masing mempunyai wilayah operasinya sendiri-sendiri. Setiap area pemasaran punya program dan gaya tersendiri sesuai dengan segment yang dihadapinya. Persaingan mutlak tidak ada karena setiap Marketing dan PR punya area kerja sendiri. Dan tolok ukur keberhasilan kerja mereka adalah tidak dilihat secara kuantitatif tapi lebih ke kualitatif. Tuhan sebagai CEO-nya proyek ini akan menilai mutu pemahaman dan pelaksanaan pesan dari IklanNya, dari pada menghitung-hitung berapa jumlah orang yang telah menyimak Iklan Nya saja.

Sudah terbukti konsep beriklan yang hard selling sudah kuno, tidak efektif, dan memberi sentiment negative pada citra produk yang diiklankan.  Cara mengiklankan Tuhan dengan Berteriak-teriak di jalanan, dengan pamer kekuatan, dengan mengumbar janji Surgawi dan menakut-nakuti manusia akan neraka sudah tidak efektif di jaman yang semakin maju dan manusia-manusia yang semakin kritis serta pandai. Hal itu Cuma efektif kalau manusia sekarang masih hidup nomaden di tenda-tenda, tanpa ilmu dan budaya yang tinggi. Yang perlu dilakukan adalah sebuah pendekatan Marketing dan PR yang harmonis. Iklan tidak lagi membujuk tapi menyadarkan, tidak lagi membohongi tapi mengedukasi dan tidak lagi memberi ancaman dan janji tetapi memberi bukti.
Iklan tidak dapat dipaksakan, kalau dipaksakan orang justru menghindar. Iklan haruslah di tanamkan sedikit-sedikit melalui proses yang berkesinambungan. Iklan tidak lagi memaksa orang untuk butuh akan produk, tapi menimbulkan kesadaran kalau produk itu dibutuhkan. Dengan demikin konsumen akan lebih aktif dalam mencari informasi tentang produk tersebut. Semua harus didasarkan keselarasan yang nyaman kalau target yang dikejar dalam Iklanya Tuhan adalah pelaksanaan ajaran Tuhan, bukan hanya mengejar besarnya jumlah orang yang pernah mendengar tentang ajaran Tuhan saja.
 
Dari Lahir kita telah menjadi sasaran dari Iklan tentang Tuhan. Sudah sampai tahap manakah pesan dalam iklan-iklan tersebut masuk ke dalam hidup kita? Kalau sampai puluhan Tahun kita belum bisa mengenal Sifat Tuhan dan menjalankannya dalam Kehidupan, kita mungkin harus complain pada Tuhan agar menganti biro iklan beserta Marketing dan PR-nya yang bertugas di area hidup kita, karena mereka tak becus dalam membuat iklan tentang Tuhan. Iklan Tentang Tuhan, dimanapun selalu membawa pencerahan dan kedamaian, bukan kegelapan dan permusuhan.

Posted by Saya at 10:39:50 | Permalink | Comments (3)