Mari Kita Memilih Tuhan
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membedakan ajaran tuhan yang benar dengan yang ajaran tuhan yang menyimpang? Hal ini bisa kita cermati dengan mengenali sifat-sifat dari sebuah “kebenaran sejati”, yang diantaranya :
Sifat Tuhan adalah Maha Baik, Maka ajaranya haruslah baik.
Kata baik bisa bermakna sangat relatif, sangat subyektif. Tetapi bila kita cermati lebih dalam, hati setiap manusia telah dilengkapi dengan yang namanya nurani yang secara alamiah akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menyakiti orang lain, membunuh, berperang, secara alamiah akan dinilai buruk oleh nurani manusia. Sebaliknya, senyuman, keramahan, cinta kasih, secara alami akan dinilai oleh nurani sebagai sebuah hal yang baik.
Tuhan itu Maha Kuasa, maka ia tidak perlu memaksakan kebenaran ajaranya.
Kebenaran tuhan mempunyai sifat dasar yang baik. Manusia telah dibekali dengan nurani untuk memilih kebaikan diantara keburukan. Maka sudah semestinya kalau ajaran tuhan itu akan selaras dengan hati manusia. Kebenaran ajaran tuhan akan diterima dengan senang hati tanpa perlu pemaksaan bahkan ancaman. Mengkukuhkan kebenaran sebuah ajaran dengan cara merendahkan dan menjelek-jelekan ajaran lain tanpa fakta yang jelas adalah sebuah kekeliruan besar. Kebenaran yang harus diakui dengan jalan merendahkan kebenaran yang lain, justru menimbulkan keragu-raguan. Ia juga tidak perlu merasa tersaingi dan lalu membenci bila muncul berbagai konsep ketuhanan yang berbeda dalam kelompok-kelompok manusia (agama). Jika masih ada rasa marah dan benci karena konsep ketuhan yang lain dari dirinya, maka tuhan tak lagi maha kuasa!
Sifat Tuhan adalah Kekal, maka kebenaran ajarannya haruslah kekal.
Ajaran-ajaran tuhan yang termuat dalam agama harus mempunyai makna dan sifat yang kekal. Bila ajaran itu bisa diterapkan pada 1000 tahun lalu, maka harus bisa diterapkan lagi secara relevan dalam 1000 mendatang dan sampai saterusnya. Hukum tuhan adalah kekal mengatasi ruang dan waktu. Bila hukum tuhan tersebut terhambat oleh kemajuan zaman, tidak mengatasi lajunya zaman, atau bertentangan dengan keadaan pada masa kini dan mendatang, maka perlu diragukan asal-usulnya.
Tuhan itu Maha Tinggi, Hukumnya harus mengatasi semua hukum buatan manusia.
Hukum tuhan posisinya harus diatas hukum manusia. Hukum tuhan adalah dasar untuk melaksanakan hukum manusia. Jangan sampai kitab suci kalah dihadapkan dengan KHUP! Sangatlah lucu kalau kita harus diganjar dengan hukuman pidana setelah kita terbukti di hadapan sidang secara sah dan meyakinkan, bersalah karena melakukan perbuatan yang bersumber dari hukumnya tuhan?
Tuhan Yang Maha Esa = Tuhan Yang Satu untuk semua manusia.
Bagi para kaum monoteis, kepercayan tentang sebuah ada yang tunggal sebagai penguasa alam semesta adalah sebuah kepercayaan yang sempurna. Dia yang satu, yang menciptakan dan mengayomi beribu-ribu benda nan majemuk, haruslah mempunyai sifat yang universal. Universal berarti bahwa tuhan bisa diterima siapa saja dan mau menerima siapa saja. Ajarannya juga harus universal, bisa masuk kesetiap budaya dan keragaman hidup manusia dengan sekali lagi tanpa paksaan. Ajaran tentu saja bukan hanya milik bangsa tertentu, bahasa tertentu, kelompok tertentu atau hanya agama tertentu saja. Tuhan itu untuk semua orang, bahkan untuk orang –orang yang tidak mempercayainya sekalipun. Cuma manusia yang suka membatasi dirinya dengan pagar-pagar kesukuan, ras, bahasa, dan agama. Kalau tuhan juga memiliki sifat tersebut, apa bedanya dengan manusia? Ia tak layak lagi diberi gelar “Maha”!
Urain diatas berdasarkan pada logika-logika sederhana. Memang benar kalau tuhan itu berada diluar jangkaun pikiran kita, tapi ajarannya sebagai interprestasi dari dirinya sendiri mestinya bisa dinalarkan melalui logika berpikir manusia. Ajaran itu datang untuk manusia, untuk dilaksanakan oleh manusia dan demi kebaikan hidup manusia, maka harus bisa masuk ke logika pemikiran manusia. Mari kita cermati ajaran dalam agama kita, apakah sesuai dengan sifat-sifat asalnya yang dari tuhan? Bila muncul keraguan itu pertanda baik. Keraguan adalah langkah pertama agar kita semakin dekat mengenal tuhan. Kalau kita tidak berani untuk ragu-ragu dan melakukan instropeksi, kita akan berdiam diri karena merasa sudah mengenal tuhan dengan dekat. Tapi apakah tuhan juga telah dekat mengenal kita?