Tuesday, April 8, 2008

Ketika Tuhan BerIklan

Ketika Tuhan Ingin memperkenalkan diri dan ajaran-ajaranNya ke tengah dunia, Maka  Ia beriklan. Bayangkan kalau Ia tidak mengiklanya diriNya, maka manusia mungkin tidak tahu kalau Ada yang NamaNya Tuhan di alam semesta ini. Sama seperti produk lainnya, hal terpenting dari sebuah iklan adalah posisioning. Posisioning agar mudah di cerna oleh para manusia di dunia perlu adanya proses ikonisasi yang berupa simbol-simbol. Maka Tuhan menyimbolkan diri dan ajaran-ajaranNya melalui; Yesus untuk orang Kristen, Sidharta Budha Gautama untuk orang Budha, Siva untuk orang Hindu, dll. Simbol disini memegang peranan sangat penting agar manusia punya acuan untuk membayangkan dan menginterprestasikan Sifat-sifat Tuhan yang tak tampak. Simbol dengan yang di simbolkan tidak dapat dipisahkan karena pada hakikatnya adalah satu, simbol merupakan sarana pendekatan agar ide tentang Tuhan lebih mudah diterima. Sehingga, Tuhan tak perlu datang secara  absolute ke tengah dunia sendiri karena justru membuat orang mabuk ketabjukan. Satu alasan simple hal itu tidak dilakukanNya karena ide Tuhan yang secara langsung hadir tak bisa masuk ke dalam benak manusia yang terbatas. Maka Tuhan memilih simbol tentang dirinya yang mudah diterima oleh benak manusia yaitu berupa manusia juga. Tanpa Simbol, orang hanya bisa samar-samar menebak Sifat Tuhan. Tanpa Simbol, Tuhan bisa diartikan dan sesuai kehendak manusia, bahkan Tuhan bisa di beri label-label sifat yang hanya untuk mencari keuntungan manusia sendiri. Adanya Simbol Tuhan Yang Hidup di Bumi Manusia, tidaklah mengurangi kemuliaan Tuhan. Tuhan sejati adalah tanda atau ide, sedangkan symbol-simbolnya adalah penanda. Seperti halnya ikon dalam desktop computer kita. Gambar Komputer mewakili aplikasi My Computer, Gambar Tong Sampah mewakili aplikasi Recycle Bin, dll. Tanpa ikon-ikon kita kesulitan untuk mengakses file, program dan aplikasi yang kita inginkan. Ketika kita me-double click ikon maka terbukalah file, program dan aplikasi yang diinginkan. Demikinan juga dengan symbol Tuhan. Ketika kita menaati Perbuatan dan perkataan Para Symbol Tuhan, kita menaati Tuhan. Karena dengan mengenal symbol maka kita akan mengenal Apa Yang Di Simbolkan juga, dan keduanya tidak dapat dipisahkan.

Setelah memilih Simbol, maka perlu bentuk penyampaian  yang sesuai dengan segment-nya. Sifat Tuhan adalah Universal, tapi manusia yang menerimanya mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Dari faktor geografis, kebangsaan dan budaya sangat berpengaruh terhadap penerimaan pesan-pesan yang disampaikan. Tuhan sadar betul akan pentingnya field of experience and preference dari manusia untuk ke efektifan proses komunikasiNya. Maka ia hadir dengan Iklan yang dibuatNya dalam berbagai versi. Dari versi-versi inilah muncul berbagai ajaran di dunia yang untuk memudahkan manusia menyebutnya dengan agama. Walaupun berbagai versi dimunculkan, Tuhan sangatlah pintar untuk tidak melupakan bahwa akan bagaimanapun pesanNya dimuat, akan dibuat jutaan versi dengan simbolnya masing-masing sekalipun, tetap harus sebagai sebuah pesan tunggal.  Kasih dalam Tuhan dan Sesama adalah sebuah pesan tunggal Tuhan dari setiap versi iklannya dalam bahasa dan versi apapun. Ada istilah-istilah muncul selanjutnya seperti, Hukum Cinta Kasih, Ukuwah, Sepuluh Perintah Allah, Dharma, Shamadi, semuanya itu mengacu pada satu hal yang sama. Pesan tunggal yang dikemas dalam berbagai bentuk tetap harus universal dan tidak membuat pertentangan antara versi Iklan satu dengan yang lainnya. Universal disini adalah harus bisa masuk dalam semua sisi kehidupan manusia dibelahan bumi manapun, bangsa apapun, hukum apapun, sampai kapanpun. Sangatlah mustahil bila sebuah pesan dalam iklan bisa diharapkan keefektifitasannya tapi hanya muncul dalam satu versi iklan saja, apalagi dalam kemasan satu bahasa saja, untuk seluruh umat manusia yang sangat beragam.
 
Setelah memunculkan berbagai symbol dan versi iklan tentang sifat dan ajaranNya, Tuhan juga memerlukan Marketing dan PR untuk memperkenalkan dirinya. Lagi-lagi karena keterbatasan pikiran manusia, setelah ada iklan perlu diadakan pengenalan lebih dalam lagi atas pesan-pesan Tuhan agar benar-benar efektif. Para Marketing dan PR ini bertugas menggiring manusia ke tingkat action. Setelah tahu, kenal, dan paham, tahap terakhir keberhasilan sebuah pesan dalam iklan adalah adanya tindakan dari komunikan. Karena yang diiklannya adalah ajaran hidup, maka yang harus dilihat adalah buah kehidupan dari manusia itu sendiri. Bila manusia bisa menerapkan kasih sebagai pesan tunggal Tuhan dalam setiap sisi kehidupannya, maka Iklan yang dibuat Tuhan berhasil. Peran Marketing dan PR haruslah tidak seperti penjual obat di pinggir jalan yang hanya menjual kata-kata saja. Sebelum ber-marketing, mereka harus paham betul produk yang dibawanya. Penguasaan akan product knowledge adalah mutlak agar mereka tidak justru menyesatkan pikiran manusia dan semakin jauh dari pesan awal dari iklanNya Tuhan. Akan lebih baik bila mereka bisa meberi contoh nyata melalui hidupnya sendiri agar walaupun mereka sedang tidak buka mulut, proses marketing dan ke-PR-an itu tetap terus berjalan. Pada hakikatnya semua manusia adalah marketing dan PR dari sifat-sifat Tuhan, tapi memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan lebih karena bakat alam atau memang khusus belajar tentang hal tersebut. Sebuah strategi marketing yang handal adalah dengan menjadikan semua orang yang pernah kita prospek jadi marketing pula pada akhirnya, sehingga pesan akan semakin cepat tersebar dengan luas. Bermacannya simbol dan versi iklan Sifat Tuhan, menciptakan banyak marketing yang masing-masing mempunyai wilayah operasinya sendiri-sendiri. Setiap area pemasaran punya program dan gaya tersendiri sesuai dengan segment yang dihadapinya. Persaingan mutlak tidak ada karena setiap Marketing dan PR punya area kerja sendiri. Dan tolok ukur keberhasilan kerja mereka adalah tidak dilihat secara kuantitatif tapi lebih ke kualitatif. Tuhan sebagai CEO-nya proyek ini akan menilai mutu pemahaman dan pelaksanaan pesan dari IklanNya, dari pada menghitung-hitung berapa jumlah orang yang telah menyimak Iklan Nya saja.

Sudah terbukti konsep beriklan yang hard selling sudah kuno, tidak efektif, dan memberi sentiment negative pada citra produk yang diiklankan.  Cara mengiklankan Tuhan dengan Berteriak-teriak di jalanan, dengan pamer kekuatan, dengan mengumbar janji Surgawi dan menakut-nakuti manusia akan neraka sudah tidak efektif di jaman yang semakin maju dan manusia-manusia yang semakin kritis serta pandai. Hal itu Cuma efektif kalau manusia sekarang masih hidup nomaden di tenda-tenda, tanpa ilmu dan budaya yang tinggi. Yang perlu dilakukan adalah sebuah pendekatan Marketing dan PR yang harmonis. Iklan tidak lagi membujuk tapi menyadarkan, tidak lagi membohongi tapi mengedukasi dan tidak lagi memberi ancaman dan janji tetapi memberi bukti.
Iklan tidak dapat dipaksakan, kalau dipaksakan orang justru menghindar. Iklan haruslah di tanamkan sedikit-sedikit melalui proses yang berkesinambungan. Iklan tidak lagi memaksa orang untuk butuh akan produk, tapi menimbulkan kesadaran kalau produk itu dibutuhkan. Dengan demikin konsumen akan lebih aktif dalam mencari informasi tentang produk tersebut. Semua harus didasarkan keselarasan yang nyaman kalau target yang dikejar dalam Iklanya Tuhan adalah pelaksanaan ajaran Tuhan, bukan hanya mengejar besarnya jumlah orang yang pernah mendengar tentang ajaran Tuhan saja.
 
Dari Lahir kita telah menjadi sasaran dari Iklan tentang Tuhan. Sudah sampai tahap manakah pesan dalam iklan-iklan tersebut masuk ke dalam hidup kita? Kalau sampai puluhan Tahun kita belum bisa mengenal Sifat Tuhan dan menjalankannya dalam Kehidupan, kita mungkin harus complain pada Tuhan agar menganti biro iklan beserta Marketing dan PR-nya yang bertugas di area hidup kita, karena mereka tak becus dalam membuat iklan tentang Tuhan. Iklan Tentang Tuhan, dimanapun selalu membawa pencerahan dan kedamaian, bukan kegelapan dan permusuhan.

Posted by Saya at 10:39:50
Comments

3 Responses to “Ketika Tuhan BerIklan”

  1. Anonymous says:

    saya sih, nggak ngaruh dengan keanehan dan kehebohan dari kejadian dimaksud,
    its not the point for me

  2. Anonymous says:

    mas kenapa testi saya dihapus? ini saya kirim data buat referensi sampeyan :

    Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986)
    Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat. Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen “Plain Truth” yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
    Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan Ambassador College yang sekarang memiliki dua kampus besar di Pasadena California dan di Big Sandy Texas . Juga mendirikan dan sebagai kepala Ambassador International Cultural Foundation, yang bergerak di bidang kebudayaan, bantuan pada masyarakat miskin, dan gerakan kemanusiaan.
    Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan Amstrong mendapatkan kehormatan dari kepala negara yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti di Jepang , India , Afrika Selatan , China , Israel dan Mesir. Pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun, Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan di depan publik. Di antara buku hasil tulisannya adalah: The Wonderful World Tomorrow, What it Will be Like dan The United State and Britain in Prophecy.
    Kenangan Natal Dimasa Kecilku
    Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal , saya biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di dinding dekat ruangan perapian. Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan kesenangan saya. Selain hadiah tersebut, juga terdapat sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa hadiah untuk anak-anak bergelantungan di dahannya dan berserakan di bawahnya.
    Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di malam hari, melalui cerobong asap perapian. Seperti anak-anak lainnya, semua cerita itu saya telah begitu saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian. Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh dengan adat kebiasaan yang harus kita … terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan.
    Mengapa kita bersikap demikian?
    Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing memang akan tetap mengikuti kelompoknya, walaupun digiring untuk … dipotong sekalipun. Tetapi sebagai manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan akal sehat.
    Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah menyelidiki, mengapa kita melakukan semua itu dan mengapa semua orang percaya bahwa yang mereka kerjakan itu benar. Seharusnya, sebagai umat Kristen yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya, apakah upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen? Apakah cara-cara merayakan Natal itu tidak mengajarkan kebohongan kepada masyarakat, yang merupakan … larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun firman tertulisNya yang memerintahkan kita untuk melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul juga melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini? Apakah kebiasaan tukar-menukar hadiah Natal dengan teman dan kerabat dekat, juga betul-betul mengikuti ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya … dan seterusnya …
    Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa semua upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja. Tetapi betulkan semua pendapat dan perkiraan itu?
    Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan dan merusak ajaran Tuhan yang sebenar-benarnya. Mungkin tulisan saya yang berdasarkan pada kenyataan ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda sendiri.
    SEJARAH NATAL
    Kata Christmas ( Natal ) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
    Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:
    “Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas.”
    ” Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”
    Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day,” Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:
    “In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world.”
    “Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”
    Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:
    “Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism.”
    ” Natal bukanlah upacar - upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”
    Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:
    “Christmas…It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion,” which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) “…A feast was established in memory of this event (Christ’s birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ’s birth existed.”
    “Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh

  3. wasisroybavi says:

    kita tidak pernah ketemu, dan akupun baru sejam lalu tahu postingan ini dari orang sebelah, buka postingan ini. walau basic keyakinan kita beda, namun pandangan akan agama kok sama ya???? saya juga punya blog,tapi masih baru. dan saya belum mahir betul dengan perblogan, jadi tampilanya masih acak-acakan.(http://spiritunlimited.wordpress.com/2009/10/30/gak-ngikut-kang-boed/)

Leave a Reply