PENYELENGGARAAN ILAHI DALAM TIGA PERAHU PENYELAMAT
khotbah tentang Penyelenggaraan Tuhan, ketika ia mendengar
sesuatu seperti ledakan. Segera ia melihat orang lalu-lalang
berlari-lari dalam kepanikan dan menemukan, bahwa bendungan
telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan.
Imam melihat air semakin tinggi di jalanan bawah. Ia merasa
sedikit sulit menekan rasa panik yang mencengkam, tetapi ia
berkata: “Di sini aku sedang menyiapkan khotbah tentang
Penyelenggaraan Tuhan, dan aku mendapat kesempatan untuk
mempraktekkan khotbahku. Aku tidak akan lari seperti
lainnya. Aku akan tetap tinggal di sini dan percaya akan
penyelenggaraan ilahi untuk menolong aku.”
Ketika air sudah sampai di jendela, perahu penuh orang
lewat. “Naiklah, pastor” teriak mereka. “Ah tidak anak,”
kata Pastor penuh percaya. “Aku percaya Penyelenggaraan
Tuhan akan menolong aku.”
Pastor memang betul naik ke atap, tetapi ketika air sampai
di sana , seperangkat orang dalam perahu lewat, mendesak
pastor agar naik, sekali lagi ia menolak.
Kali ini ia naik ke puncak menara lonceng. Ketika air sampai
di lututnya, seorang petugas dalam perahu motor dikirim
untuk menolongnya. “Terimakasih, saudara,” kata Pastor
dengan senyum tenang. “Aku percaya kepada Tuhan. Ia tidak
akan meninggalkan aku.”
Ketika pastor tenggelam dan naik ke surga, pertama-tama yang
ia lakukan ialah mengeluh kepada Tuhan. “Aku percaya
kepada-Mu. Mengapa Engkau tidak berbuat apa-apa untuk
menolong aku.”
“Ah,” kata Tuhan. “Aku sudah mengirim perahu tiga kali.”
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)
Saya pernah di doktrin oleh orang kristen yang fanatik Injil, tentang penyelenggaraan Ilahi.
Sebagai seorang yang mencintai Ajaran Yesus juga, hal yang paling aku sedihkan dari pernyataan orang tersebut adalah karena pikiran-pikirannya tersebut bukan hanya sebuah kebodohan individual, melainkan sebuah doktrin sempit yang sudah menjadi landasan pemikiran secara sistematik dari sebuah gereja yang mempunyai jemaat cukup besar di kotaku. Menutut ajaran gereja tersebut, Tuhan dipersonifikasikan selayaknya tukang sulap yang karyanya selalu ajaib, atau bagai seorang debitur yang bisa membayar hutang –hutang umatnya dengan cara-cara yang ajaib pula, atau tukang obat, dukun, atau konsultan bisnis. Mereka sangat memuja muzijat dan keajaiban. Semua doa, nyanyian dan pujian, mereka ditujukan agar mudah dapat mujizat. Memang benar Tuhan bisa melakukan semua itu, orang-orang berimanpun pasti akan mempercayainya. Tetapi menyempitkan Kuasa Tuhan adalah sebuah kemunduran dalam nilai-nilai keimanan yang sejati.
Bahaya dari pemikiran ini adalah :
- Iman Kristen yang Instan; yaitu beriman kepada ajaran Kristus demi mujizat semata. Hal ini merupakan sebuah bentuk penerdilan dari sifat-sifat Tuhan yang seharusnya.
- Introfet dan Ekslusife; umat akan terfokus pada puji-pujian semata, doa semata, karena menurut mereka itulah syarat bisa dapat mujzat. Kadang mereka lupa akan peringatan Yesus bahwa Iman tanpa Perbuatan adalah MATI! Kegiatan mereka hanya diisi dengan pujian, membaca injil siang dan malam, kesaksian tentang mujizat yang dialami, atau mengiklankan mujizat-mujizat tersebut melalui berbagai media masa. Perbuatan kasih yang sebenarnya adalah sebuah nubuat yang hidup atau pengejawantahan iman menjadi luntur dan terpinggirkan. Agama jadi sarana pemenuhan kebahagian diri sendiri. Bahkan mereka menganggap Iman lebih penting dari pada Cinta Kasih itu sendiri.
- Kurang Rasa Bersyukur; Mereka selalu memaknai Mujizat sebagai peristiwa-peristiwa besar nan ajaib, seperti orang sakit lumpuh karena stroke setelah di doakan langsung bisa berjalan, usaha mau bangkrut setelah didoakan langsung bisa berkembang dengan baik, dll. Umat jadi kurang menaruh syukur pada peristiwa sehari-hari yang semuanya juga merupakan mujizat dari kuasa Tuhan. Orang bisa hidup bernafas, matahari terbit, benda-benda angkasa bergerak pada jalurnya, alam yang indah, langit yang biru, hasil bumi, teman baik, keluarga, nyamuk yang menggigit kita, itu semua adalah bentuk-bentuk mujizat Tuhan Juga.
- Malas dan tidak realistis; karena menganggap semua hal akan langsung diberikan oleh Tuhan secara ajaib, maka banyak umat yang jadi malas dan bersikap tidak realistik.
- Tidak Ikhlas; Cinta akan Yesus haruslah merupakan cinta yang benar-benar tulus. Orang sering bilang, Aku iklas melakukan kebaikan ini, biar Tuhan saja yang membalasnya. Dua pernyataan yang paradoksal digabung menjadi satu. Yang namanya Ikhlas dan tulus harusnya tidak mengharap imbalan apapun baik di bumi maupun dari surga.
- Penyalahgunaan; Mujizat bisa disalahgunakan untuk kepentingan kelompok semata, atau bahkan kepentingan materi semata. Mujizat adalah cara yang paling efektive untuk menarik pikiran-pikiran sederhana agar tertarik pada Tuhan, atau tertarik menjadi umat di gereja tertentu karena di gereja tersebut banyak terjadi mujizat. Disini, mujizat Tuhan menjelma menjadi sebuah iklan yang manjur untuk menarik umat masuk ke gereja tertentu.
Melalui renungan dari Pastur Demello di atas, ada sebuah ajakan untuk lebih membuka hati dan pikiran atas semua pemeberian Tuhan dalam hidup kita. Pemberian tersebut tidak harus dan tidak selalu muncul dalam hal-hal yang ajaib. Mujizat dalam kesehariannya tampil melalui orang-orang di sekitar kita dalam peran mereka masing-masing. Dokter, orang tua, guru, anak, pedagang, supir, pendeta, polisi, dll, adalah perpanjangan tangan Tuhan agar mujizatnya bisa sampai ke dalam hidup umatnya. Dengan menyadari hal tersebut, hati akan lebih bersyukur dengan segala yang kita terima dan makin menyadari bahwa Tuhan hadir dan melingkupi segala sisi dari hidup ini.
Wasallam……