Mari Kita Memilih Tuhan
Tuhan sebuah ada yang sangat abstrak. Tuhan dipercaya hadir dan punya kuasa di alam semesta, tapi tak terjangkau oleh akal pikiran dan panca indera. Manusia selalu tertarik dengan segala macam bentuk kekuatan yang lebih hebat melebihi diri mereka. Pencarian akan kekuatan Yang Maha itu ada sebuah pencarian turun temurun dari generasi - generasi awal manusia dulu sampai hingga zaman ini berakhir.
Lalu bagaimana kita akan mencari akan sesuatu yang tak nampak, dan tak seorangpun di bumi ini pernah menjumpainya secara langsung? Dan bagaimana kita bisa tahu dan percaya bahwa yang kita temukan nanti dalam pencarian kita adalah sosok tuhan yang sebenarnya? Sebuah misteri terbesar dalam kehidupan manusia. Disini agama-agama hadir untuk mencoba sedikit memberi jalan terang pada manusia dalam menyibak misteri tentang ketuhanan. Agama bukan satu-satunya jalan untuk mencari tuhan, Agama memberikan kita panduan termudah untuk bisa merasakan kehadiran tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi dengan begitu banyaknya agama yang ada dimuka bumi, dengan paparan tentang tuhan dalam versinya masing-masing, manusia dihadapkan sekali lagi pada sebuah kebingungan baru, agama manakah yang membawa kearah tuhan yang benar? Tuhan yang sebenar-benarnya tetap menjadi misteri bagi manusia hidup. Melalui sifat-sifat yang muncul dari ajaranya-lah, kita dapat mencermati apakah tuhan yang selama ini kita percayai melalui agama, adalah benar tuhan yang sebenar-benarnya?
Kebenaran akan tuhan. Kebenaran sebagai kata kuncinya. Jika kata kebenaran diganti, maka kata tuhan yang mengikutinya jadi tak berarti. Kata benar yang membuat kata tuhan punya arti. Kebanaran tentang tuhan yang berlaku di dalam agama, haruslah kebenaran yang sejati, bukan kebenaran hanya karena klaim semata. Kebenaran sejati pun sebuah kata yang definisinya susah untuk disepakati bersama. Tapi kebenaran sejati memiliki sifat-sifat dasarnya yang walaupun orang tidak mengerti akan definisinya tetap masih bisa merasakan hakikatnya. Kebenaran sejati mempunyai sifat yang selaras dengan hati nurani manusia. Selaras tanpa menimbulkan pertentangan, pertanyaan dan pemaksaan. Contoh –contoh kebenaran sejati bisa kita temui pada alam sekitar kita. Orang tidak perlu berdebat, atau dipaksa untuk mengakui bahwa cabai itu pedas, bahwa api itu panas, bahwa es situ dingin atau bahwa batu itu keras. Cabai dikatakan benar sebagai cabai karenanya sifat-sifatnya. Sifat cabai yang utama adalah pedas. Kalau ada benda yang betuknya sama persis seperti cabai tapi mempunyai rasa yang manis, maka benda itu tidak layak disebut cabai. Hal demikian juga berlaku untuk kebenaran batu, api, es dan benda – benda lainnya termasuk kebenaran akan tuhan.
Bagi para penganutnya, ajaran agama dipandang sebagai sebuah hal yang sacral karena bersumber dari firman-firman tuhan sendiri. Orang akan dengan mudahnya menarik kesimpulan bahwa karena agama adalah sabda tuhan, dan tuhan itu maha benar, maka agama adalah mutlak kebenarannya. Kesimpulan tersebut adalah sebuah kesimpulan yang berbahaya. Karena bisa dikatakan kalau ada ajaran agama yang salah atau buruk karena bertentangan dengan hati nurani kemanusiaan secara umum, maka dapat disimpulkan bahwa tuhan yang merupakan sumber dari ajaran itu adalah tuhan yang salah atau tuhan yang buruk juga!? Dalam teori komunikasi, setiap pesan yang disampaikan oleh komunikan akan selalu berhadapan dengan noise atau gangguan sehingga reduksi pesan adalah hal yang sangat wajar terjadi. Demikian pula dalam agama. Pesan tuhan tidak pernah datang langsung bergema nyaring dari langit. Pesan-pesan tersebut selalu datang melalui perantara. Manusia sebagai perantara mempunyai latar belakang budaya, adat istiadat, pemikiran, politik, dan keinginan-keinginan manusiawi lainnya yang sedikit banyak dapat mereduksi pesan dari tuhan tersebut. Karena sifat dasar tuhan yang serba Maha dan mempunyai kebenaran yang mutlak, kalau ada ajaran agama yang isinya menyimpang bisa muncul berbagi kemungkinan seperti ; kesalahan si pembawa pesan dalam menyampaikan pesan tuhan atau pesan itu bukan datang dari tuhan.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membedakan ajaran tuhan yang benar dengan yang ajaran tuhan yang menyimpang? Hal ini bisa kita cermati dengan mengenali sifat-sifat dari sebuah “kebenaran sejati”, yang diantaranya :
Sifat Tuhan adalah Maha Baik, Maka ajaranya haruslah baik.
Kata baik bisa bermakna sangat relatif, sangat subyektif. Tetapi bila kita cermati lebih dalam, hati setiap manusia telah dilengkapi dengan yang namanya nurani yang secara alamiah akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menyakiti orang lain, membunuh, berperang, secara alamiah akan dinilai buruk oleh nurani manusia. Sebaliknya, senyuman, keramahan, cinta kasih, secara alami akan dinilai oleh nurani sebagai sebuah hal yang baik.
Tuhan itu Maha Kuasa, maka ia tidak perlu memaksakan kebenaran ajaranya.
Kebenaran tuhan mempunyai sifat dasar yang baik. Manusia telah dibekali dengan nurani untuk memilih kebaikan diantara keburukan. Maka sudah semestinya kalau ajaran tuhan itu akan selaras dengan hati manusia. Kebenaran ajaran tuhan akan diterima dengan senang hati tanpa perlu pemaksaan bahkan ancaman. Mengkukuhkan kebenaran sebuah ajaran dengan cara merendahkan dan menjelek-jelekan ajaran lain tanpa fakta yang jelas adalah sebuah kekeliruan besar. Kebenaran yang harus diakui dengan jalan merendahkan kebenaran yang lain, justru menimbulkan keragu-raguan. Ia juga tidak perlu merasa tersaingi dan lalu membenci bila muncul berbagai konsep ketuhanan yang berbeda dalam kelompok-kelompok manusia (agama). Jika masih ada rasa marah dan benci karena konsep ketuhan yang lain dari dirinya, maka tuhan tak lagi maha kuasa!
Sifat Tuhan adalah Kekal, maka kebenaran ajarannya haruslah kekal.
Ajaran-ajaran tuhan yang termuat dalam agama harus mempunyai makna dan sifat yang kekal. Bila ajaran itu bisa diterapkan pada 1000 tahun lalu, maka harus bisa diterapkan lagi secara relevan dalam 1000 mendatang dan sampai saterusnya. Hukum tuhan adalah kekal mengatasi ruang dan waktu. Bila hukum tuhan tersebut terhambat oleh kemajuan zaman, tidak mengatasi lajunya zaman, atau bertentangan dengan keadaan pada masa kini dan mendatang, maka perlu diragukan asal-usulnya.
Tuhan itu Maha Tinggi, Hukumnya harus mengatasi semua hukum buatan manusia.
Hukum tuhan posisinya harus diatas hukum manusia. Hukum tuhan adalah dasar untuk melaksanakan hukum manusia. Jangan sampai kitab suci kalah dihadapkan dengan KHUP! Sangatlah lucu kalau kita harus diganjar dengan hukuman pidana setelah kita terbukti di hadapan sidang secara sah dan meyakinkan, bersalah karena melakukan perbuatan yang bersumber dari hukumnya tuhan?
Tuhan Yang Maha Esa = Tuhan Yang Satu untuk semua manusia.
Bagi para kaum monoteis, kepercayan tentang sebuah ada yang tunggal sebagai penguasa alam semesta adalah sebuah kepercayaan yang sempurna. Dia yang satu, yang menciptakan dan mengayomi beribu-ribu benda nan majemuk, haruslah mempunyai sifat yang universal. Universal berarti bahwa tuhan bisa diterima siapa saja dan mau menerima siapa saja. Ajarannya juga harus universal, bisa masuk kesetiap budaya dan keragaman hidup manusia dengan sekali lagi tanpa paksaan. Ajaran tentu saja bukan hanya milik bangsa tertentu, bahasa tertentu, kelompok tertentu atau hanya agama tertentu saja. Tuhan itu untuk semua orang, bahkan untuk orang –orang yang tidak mempercayainya sekalipun. Cuma manusia yang suka membatasi dirinya dengan pagar-pagar kesukuan, ras, bahasa, dan agama. Kalau tuhan juga memiliki sifat tersebut, apa bedanya dengan manusia? Ia tak layak lagi diberi gelar “Maha”!
Urain diatas berdasarkan pada logika-logika sederhana. Memang benar kalau tuhan itu berada diluar jangkaun pikiran kita, tapi ajarannya sebagai interprestasi dari dirinya sendiri mestinya bisa dinalarkan melalui logika berpikir manusia. Ajaran itu datang untuk manusia, untuk dilaksanakan oleh manusia dan demi kebaikan hidup manusia, maka harus bisa masuk ke logika pemikiran manusia. Mari kita cermati ajaran dalam agama kita, apakah sesuai dengan sifat-sifat asalnya yang dari tuhan? Bila muncul keraguan itu pertanda baik. Keraguan adalah langkah pertama agar kita semakin dekat mengenal tuhan. Kalau kita tidak berani untuk ragu-ragu dan melakukan instropeksi, kita akan berdiam diri karena merasa sudah mengenal tuhan dengan dekat. Tapi apakah tuhan juga telah dekat mengenal kita?
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membedakan ajaran tuhan yang benar dengan yang ajaran tuhan yang menyimpang? Hal ini bisa kita cermati dengan mengenali sifat-sifat dari sebuah “kebenaran sejati”, yang diantaranya :
Sifat Tuhan adalah Maha Baik, Maka ajaranya haruslah baik.
Kata baik bisa bermakna sangat relatif, sangat subyektif. Tetapi bila kita cermati lebih dalam, hati setiap manusia telah dilengkapi dengan yang namanya nurani yang secara alamiah akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Menyakiti orang lain, membunuh, berperang, secara alamiah akan dinilai buruk oleh nurani manusia. Sebaliknya, senyuman, keramahan, cinta kasih, secara alami akan dinilai oleh nurani sebagai sebuah hal yang baik.
Tuhan itu Maha Kuasa, maka ia tidak perlu memaksakan kebenaran ajaranya.
Kebenaran tuhan mempunyai sifat dasar yang baik. Manusia telah dibekali dengan nurani untuk memilih kebaikan diantara keburukan. Maka sudah semestinya kalau ajaran tuhan itu akan selaras dengan hati manusia. Kebenaran ajaran tuhan akan diterima dengan senang hati tanpa perlu pemaksaan bahkan ancaman. Mengkukuhkan kebenaran sebuah ajaran dengan cara merendahkan dan menjelek-jelekan ajaran lain tanpa fakta yang jelas adalah sebuah kekeliruan besar. Kebenaran yang harus diakui dengan jalan merendahkan kebenaran yang lain, justru menimbulkan keragu-raguan. Ia juga tidak perlu merasa tersaingi dan lalu membenci bila muncul berbagai konsep ketuhanan yang berbeda dalam kelompok-kelompok manusia (agama). Jika masih ada rasa marah dan benci karena konsep ketuhan yang lain dari dirinya, maka tuhan tak lagi maha kuasa!
Sifat Tuhan adalah Kekal, maka kebenaran ajarannya haruslah kekal.
Ajaran-ajaran tuhan yang termuat dalam agama harus mempunyai makna dan sifat yang kekal. Bila ajaran itu bisa diterapkan pada 1000 tahun lalu, maka harus bisa diterapkan lagi secara relevan dalam 1000 mendatang dan sampai saterusnya. Hukum tuhan adalah kekal mengatasi ruang dan waktu. Bila hukum tuhan tersebut terhambat oleh kemajuan zaman, tidak mengatasi lajunya zaman, atau bertentangan dengan keadaan pada masa kini dan mendatang, maka perlu diragukan asal-usulnya.
Tuhan itu Maha Tinggi, Hukumnya harus mengatasi semua hukum buatan manusia.
Hukum tuhan posisinya harus diatas hukum manusia. Hukum tuhan adalah dasar untuk melaksanakan hukum manusia. Jangan sampai kitab suci kalah dihadapkan dengan KHUP! Sangatlah lucu kalau kita harus diganjar dengan hukuman pidana setelah kita terbukti di hadapan sidang secara sah dan meyakinkan, bersalah karena melakukan perbuatan yang bersumber dari hukumnya tuhan?
Tuhan Yang Maha Esa = Tuhan Yang Satu untuk semua manusia.
Bagi para kaum monoteis, kepercayan tentang sebuah ada yang tunggal sebagai penguasa alam semesta adalah sebuah kepercayaan yang sempurna. Dia yang satu, yang menciptakan dan mengayomi beribu-ribu benda nan majemuk, haruslah mempunyai sifat yang universal. Universal berarti bahwa tuhan bisa diterima siapa saja dan mau menerima siapa saja. Ajarannya juga harus universal, bisa masuk kesetiap budaya dan keragaman hidup manusia dengan sekali lagi tanpa paksaan. Ajaran tentu saja bukan hanya milik bangsa tertentu, bahasa tertentu, kelompok tertentu atau hanya agama tertentu saja. Tuhan itu untuk semua orang, bahkan untuk orang –orang yang tidak mempercayainya sekalipun. Cuma manusia yang suka membatasi dirinya dengan pagar-pagar kesukuan, ras, bahasa, dan agama. Kalau tuhan juga memiliki sifat tersebut, apa bedanya dengan manusia? Ia tak layak lagi diberi gelar “Maha”!
Urain diatas berdasarkan pada logika-logika sederhana. Memang benar kalau tuhan itu berada diluar jangkaun pikiran kita, tapi ajarannya sebagai interprestasi dari dirinya sendiri mestinya bisa dinalarkan melalui logika berpikir manusia. Ajaran itu datang untuk manusia, untuk dilaksanakan oleh manusia dan demi kebaikan hidup manusia, maka harus bisa masuk ke logika pemikiran manusia. Mari kita cermati ajaran dalam agama kita, apakah sesuai dengan sifat-sifat asalnya yang dari tuhan? Bila muncul keraguan itu pertanda baik. Keraguan adalah langkah pertama agar kita semakin dekat mengenal tuhan. Kalau kita tidak berani untuk ragu-ragu dan melakukan instropeksi, kita akan berdiam diri karena merasa sudah mengenal tuhan dengan dekat. Tapi apakah tuhan juga telah dekat mengenal kita?
Posted by in 04:38:38
Kirim Tulisan atau masukan ke stefanusajie@gmail.com
mau comen ah,, boleh ya, bos? pertama2 saya mau mencoba mencurahkan isi hati saya,, hahahaha,, saya mulai jengah dengan keberadaan agama2 yang saling menjelekkan,, mengartikan ayat2 scara langsung tanpa ada pemahaman mendalam,, dan bahkan saya mempertanyakan sendiri,, apakah agama itu?
itu lain hal,, untuk masalah Tuhan,, saya punya pemikiran sendiri,, (boleh sharing kan?)
maaf sebelumnya,, saya agak “nakal” untuk sedikit berbagi tentang teori saya tentang Tuhan….
awalnya saya berpikir kalau Tuhan hanya hidup di dalam alam pikiran manusia,, lama2 saya berfikir kalo akal pikiran itu ada yg mencuptakan,, dst,, hingga akhirnya saya berkesimpulan bahwa Tuhan itu ada,, tapi…
Tuhan telalu baik,, karena ajaran tentang Tuhan itu Maha Baik hanya salah satu promotion tools (seperti di post anda mengenai “Tuhan beriklan”) agar dapat diterima oleh manusia…
buat apa manusia mempercayai kalau Tuhan itu adalah Maha Kasar, Maha Jahat,, Maha Cemburu dsb…
menurut saya,, Tuhan itu hanya punya satu sifat mutlak,, yaitu Sang Pencipta,, yang menciptakan semuanya,, alam semesta, manusia, hewan, tumbuhan, galaksi,, dll…
kenapa? ya karena Dia Tuhan,, Dia menciptakan semuanya,,, dan saya rasa, sah-sah saja bila Tuhan bertindak seenaknya,, mau adil kek, nggak kek,, Dia tetep Tuhan gitu loh hehehe…
manusia lah biang keladinya,, mencari tempat pertolongan terakhir,, ke Tuhan,, mencari tempat terakhir untuk dipersalahkan,, ke Tuhan,,, meratapi nasib,, ke Tuhan,, mensyukuri nikmat,, ke Tuhan…
saya berfikir bahwa,, Tuhan sebagai Creator punya priviledge sendiri untuk berbuat terhadap ciptaan-Nya…
saya percaya bahwa Dia benar2 Maha segalanya,, tapi bukan hanya untuk sifat baik saja,, tetapi untuk segala keburukan juga…
saya tidak menyalahkan Tuhan,, tapi melihat tulisan di blog anda ini,, membuat saya ingin berbagi pendapat,, bahwasanya Tuhan itu Maha segalaNya,, tudak perlu selalu berbuat bauk,, tidak perlu berbagi pengetahuan kepada manusia,, tidak perlu menjadi the One yang slalu menjadi panutan,, dan sah-sah saja kalau Tuhan menyuruh ciptaanNya membunuh,, berbohong,, atau apapun itu..
sayangnya manusia terjebak ke dalam pola pikir bahwa Tuhan itu PASTI BAIK,, hohoho…
secara logis kita mesti sadar bahwa, Dia Pencipta,, terserah Dia donk ciptaanNya mau diapain aja,, hehe..
itu sekedar sharing saja dr saya,, thanks buat blognya,, sangat menyentil (dan pastinya bisa membakar para penganut fanatik suatu agama hahahaha)…
saya menjalani hidup dengan keyakinan,, berbuat baik sajalah terhadap sesama, dan terhadap ciptaanNya,, kalaupun nantu akan ada Hari Pengadilan,, Tuhan kan Maha Adil,, biar Dia sajalah yang menilai amal ibadah manusia
thanks before,,
salam…
just review
tuhan adalah segalanya, disini isalam dengan sangat halus di perjelekkan. ya saya maklum, karena hanya orang JELeK lah yang menjelekkan orang lain.. hehehe
TUhan Bagiku sama dengan wrote diatas, dan sangat logika banget. Dan memberi pencerahan bahwa Tuhan itu tIDAKLAH SAMA dengan Ciptaan-Nya, apalgi sama dengan manusia.
Kalo sama, Akupun bisa jadi Tuhan Kan?
Karena Tuhan KU adalah Allah SWT semata, bukan punya anak dan diperanakkan..
Kalo mas punya blog ini kagak terima koment ku, foward aja di drummerromantis_z@yahoo.co.id
gak enak debat disini, nti mas stevan kalah, kan malu maluin.hihi