Thursday, May 22, 2008

Filsafat dan Agama

Agama, pada awal tahap perkembangannya kerap terjebak pada pola-pola penghayatan yang sempit . Ayat-ayat dalam kitab suci diterjemahkan secara kaku dan sangat tekstual. Tidak semua orang boleh memegang dan membaca Kitab Suci. Interprestasi sabda Tuhan, dari teks suci ke penjabaran dalam kehidupan sehari-hari didominasi oleh kepentingan petinggi agama, dan semakin kacau ketika kepentingan penguasa negara ikut turut campur. Akibatnya fatal! Ketaatan pemeluk agama memang kuat, tapi fanatisme sempit yang cenderung anarkis juga meningkat, dan tiba-tiba saja muka tuhan terlihat begitu bengis dan bodoh! Hampir semua agama mempunyai masa kegelapannya masing-masing. Kebodohan manusia dalam mengartikan sebuah pesan yang datang dari Tuhan sekalipun, bisa berbahaya hasilnya.  

Kebodohan dan kebengisan agama bisa dikikis sedikit demi sedikit ketika agama mulai berani membuka diri terhadap kajian keilmuan lain yang ada di dunia ini. Salah satu jembatan yang menghubungkan pesan dari Tuhan dalam agama dengan penerapannya di kehidupan sehari-hari adalah filsafat. Filsafat sering diartikan sebagai sebuah hal yang rumit, penuh kata-kata yang sulit dimengerti, dan susah untuk dipelajari. Tapi sebenarnya, ketika orang sudah memahami pola keilmuan dalam filsafat, filsafat justru memberikan sebuah cara untuk menyederhanakan tahap-tahap pemikiran manusia agar lebih mudah dalam menelaah inti sari dari sebuah permasalahan.

Filsafat berasal dari bahasa yunani Philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”. Filsafat mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Hal ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Maka, untuk studi falsafi mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Proses berpikir filsafat dilakukan dalam 3 bagian yang meliputi ; Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi.

Ontologi membahas tentang masalah “keberadaan” sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris. Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1.     kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2.     Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

Epistemologi adalah tema yang mengkaji tentang pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
Sedangkan aksiologi adalah tema yang membahas tentang masalah nilai atau norma sosial yang berlaku pada kehidupan manusia. Bisa dikatakan juga bahwa aksiologis merupakan penerapan secara nyata dari proses dialektika ilmu pengetahuan.

Tiga pemikiran filsafat diatas dapat diterapkan untuk menelaah hakikat terdalam dari ajaran - ajaran agama yang ada di muka bumi. Misalnya untuk melihat hubungan antara sifat Tuhan dengan kebenaran ajaran yang diwartakanNya.  Secara ontologis, Tuhan merupakan ada yang menguasai segala ada lain di alam semesta ini. Secara epistimologis, sebagai ada tertinggi, maka Tuhan haruslah mempunyai sifat “Maha” sebagai kebalikan dari ada lain di alam semesta yang mempunyai sifat terbatas. Sifat “Maha” tersebut adalah syarat mutlak agar sebuah ada layak disebut sebagai Tuhan. Secara aksiologis, akan dilihat apakah ajaran yang bersumber dari Tuhan yang Maha Tak Terbatas tersebut, mempunyai sifat dan karakteristik sama dengan sumbernya, ketika dipraktekan di tengah kehidupan sehari – hari ( baca selengkapnya di posting terdahulu dalam blog ini ).  Pemikiran filosofis mempunyai dasar yang netral dalam memandang Tuhan dan agama, karena sumber pemikiran filosofis yang sejati bersumber pada akal sehat dan hati nurani yang bersih.

Ilmu-ilmu eksakta sering gagal dalam memahami Tuhan dan Agama. Filsafat dapat menjembatani antara misteri agama dengan kajian keilmuan yang kongkret dan kritis. Dengan demikian, agama muncul dengan muka baru yang lebih ramah dan manusiawi. Tapi banyak pula lembaga-lembaga agama yang phobia dengan Filsafat. Bahkan tidak sedikit yang menganggap bahwa semua pengetahuan dan ilmu selain agama tidak ada gunanya serta sesat belaka! Kebodohan orang-orang tersebut memandang sempit ilmu filsafat sebagai perusak kemurnian agama. Ada juga muncul kekhawatiran yang tidak beralasan bahwa dengan mempelajari filsafat, akan menarik seseorang ke arah atheisme. Pemikiran ini sangat bertolak belakang dengan fakta keilmuan yang ada. Filsafat justru mendekatkan manusia pada pemikiran inti dari agama yang semurni-murninya. Filsafat dapat menyingkap selubung misteri dari ajaran agama,  agar makin mudah dipahami manusia. Filsafat juga memberikan alasan yang masuk akal disamping alasan keimanan, untuk mempercayai serta menjalankan sebuah agama. Kadang muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik hati. Kebohoan tersebut sebuah budaya yang muncul dengan sendirinya karena sifat yang introfet atau sengaja “dibodohkan” secara institusi untuk menghindari melihat sisi yang sebenarnya dari ajaran agama yang dianutnya???

Tidak berpikir secara filosofis dalam menjalankan agama berarti memisahkan akal sehat dan hati nurani dari agama. Agama akan  jalan ditempat, nyaman dengan status quo dan bangga berada di era dark ages. Agama akan berkutat pada kebenaran semu yang terus dipaksakan untuk dipercayai tanpa dasar yang jelas. Pemaksaan kebenaran semu secara ini diabil dengan dsar-dasar yang subyektif, yaitu dengan teks-teks dari kitab sucinya sendiri. bagaimana bisa teks suci sebuah agama dapat digunakan sebagai epistimologi pemikiran, kalau secara ontologis belum dapat dijelaskan hakekat kebenarannya secara kongkret?
 
Usaha pencarian kebenaran itu akan semakin bodoh dan terlihat putus asa dari hari ke hari. Pada tahap berikutnya, agama yang memaksakan kebenarnya secara subyektif tersebut akan menyerang teks-teks ajaran agama lain dengan tujuan memperlihatkan bahwa agamanya benar dan agama lain salah. Tapi sekali lagi dengan katalisator yang tidak masuk akal. Kebenaran teks agama lain dinilai dengan tolok ukur teks agamanya sendiri yang nyata-nyata memang saling bertentangan. Hal tersebut cuma akan menunjukan kenyataan adanya perbedaan dari dua ajaran agama, bukan menujukan pada kenyataan tentang ajaran mana yang benar dan mana yang salah. Pemaksaan kebenaran juga sering dilakukan dengan mencomot ayat dalam ajaran agama lain secara tekstual, dan dicarikan pemaknaan yang dipaksakan untuk mengakui kebenaran dari sebuah agama tertentu. Sebuah paradoks yang lucu. Untuk menyatakan agamanya benar, kadang mereka mencari kesalahan-kesalahan dari ajaran lain, tapi kadang pula mereka mencari dalam ayat-ayat agama orang lain tersebut yang sekiranya kalau diartikan secara ngawur, bisa dijadikan bukti pembenar dari ajaran agamanya sendiri.
 
Belum puas dengan cara-cara diatas, mereka memaksakan kebenaran agama dengan menghubung-hubungkan feneomena ilmiah dengan teks agama. Misalnya; telaah ilmiah tentang matahari sebagai sumber cahaya dihubungkan secara aneh dengan sebuah ayat yang memuat kata sinar matahari didalamnya, lalu membuat kesimpulan bahwa ajaran agamanya hebat dan benar karena telah mengetahui hal tersebut jauh sebelum para ilmuan-ilmuan sekuler mengetahuinya. Sebuah kesimpulan yang anti logika. Primus-primus yang berdiri sendiri –sendiri dan tidak saling berhubungan, dipaksakan untuk mengarah pada satu konklusi tertentu. Banyak terjadi bahwa fenomena-fenomena alam yang dipakai sebagai alat pembenaran tersebut bukan berasal dari telaah ilmiah yang nyata tetapi dari berita-berita bohong atau berita yang sengaja direkayasa untuk membohongi publik ( baca posting tentang hoax ).

Bila cara yang dipakai untuk mencari kebenaran dari Tuhan dan agama adalah cara-cara konyol seperti yang ada di atas, maka akan menghasilkan umat beragama yang berwawasan sempit, bodoh, dan fanatik.  Kegagalan mereka sendiri dalam mencari kebenaran yang sejati dari agamanya, akan menimbulkan sikap yang  selalu memusuhi terhadap ajaran agama lain dan selalu berusaha mencari kejelekan-kejelekan subyektif dari ajaran agama lain. Bila hal tersebut terus dipupuk secara melembaga, saya ucapkan selamat datang diera mundur yang anti peradaban. Hanya orang yang bosan dengan peradaban yang melembagakan dan melestarikan kebodohan.
 
Agama dan filsafat bisa bersanding dengan mesra dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Dua-duanya bisa semakin kokoh dan saling mencerahkan. Sebagai perumpamaan bahwa Agama itu adalah peta dan filsafat itu adalah obor. Manusia yang berjalan di lorong-lorong gelap kehidupan ini, bila hanya berbekal peta mereka masih bisa berjalan tanpa tersesat, tapi mungkin akan banyak tersendung atau menabrak sesuatu di jalan. Bila hanya mengandalkan peta tanpa penerangan obor, jalan terlihat terang sehingga dapat terhindar dari tersandung atau menabrak, tapi ada kemungkinan tersesat. Bila digunakan dua-duanya, maka manusia akan bisa berjalan lancar dan tanpa tersesat melintasi gelapnya jalan kehidupannya.
 
Solo, 22 Mei 2008

Posted by Saya in 03:57:46
Comments

One Response

  1. NOVIANUS says:

    SAUDARA MUNGKIN BISA MENGATAKAN BAHWA SETIAP AGAMA YANG FANATIS CENDRUNG UNTUK BERTINDAK ANARKIS, YA..DALAM HAL LAIN MUNGKIN ADA BENARNYA TAPI TIDAK JUGA SEMATA-MATA SPERTI ANGGAPAN ANDA KARENA KETIKA KITA MENGATAKAN BAHWA WAWASAN KITA DAN PANDANGAN KITA TELAH LUAS TERHADAP SUATU HAL MAKA SEBENARNYA DISITULAH LETAK “KEBODOHAN KITA” KARENA KITA MAU MENGENAL ALLAH MELALUI APA YANG KITA SEBUT SEBAGAI “KEBIJAKSANAAN” PADAHAL TANPA ALLAH PEBCIPTA LANGIT DAN BUMI YANG MEMPERKENALKAN DIRINYA KITA TIDAK MUNGKIN BISA MENGENAL DAN MENGETAHUINYA DENGAN KEMAMPUAN KITA YANG SANGAT TERBATAS DIHADAPANNYA DAN PENGETAHUAN TENTANG KEBENARAN YANG SEJATI ITU HANYA BISA KETAHUI DENGAN SEBENARNYA APABILA KITA MENERIMA KESAKSIAN DARI APA YANG ALLAH BERIKAN MELAUI FIRMANYA YANG MAHABENAR,SUCI DAN MAHAKUASA.
    TAPI BANYAK MANUSIA CIPTAAN ALLAH TIDAK DAPAT MENEMUKAN KEBENARAN YANG SEJATI ITU KARENA MANUSIA HANYA MENGANDALKAN APA YANG DISEBUT DENGAN “KEBIJAKSANAANNYA SENDIRI” TANPA IA MAU MENCARI HAKEKAT DAN SUMBER KEBIJAKSANAAN YANG SEJATI DAN JUGA BANYAK ORANG YANG TIDAK BISA MENGERTI BAHWA ALLAH PENCIPTA LANGIT DAN BUMI ADALAH ALLAH YANG “TIDAK BISA MENYANGKAL SIFATNYA”,MAKSUDNYA APA? ARTINYA JIKALAU ALLAH ITU MAHAKUASA IA TIDAK MUNGKIN BISA MENCIPTAKAN SESUATU YANG MELEBIHI BATAS2 KEKUASAANNYA SEBAB HANYA DIALAH SATU-SATUNYA PRIBADI YANG MAHAKUASA DAN JUGA APABILA ALLAH ITU MAHA ADIL IA JUGA TIDAK MUNGKIN UNTUK MEMILIH-MILIH ORANG DALAM MENEGAKKAN KEADILAN APABILA ADA ORANG YANG MELANGGAR FIRMANYA SEKALIPUN ORANG TERSEBUT ADALAH ORANG YANG PALING IA KASIHI SEBAB DIA ADALAH PRIBADI YANG TIDAK BISA MENYANGKAL SIFATNYA ARTINYA IA TIDAK BISA UNTUK MELANGGAR FIRMANNYA YANG MAHA SUCI,
    JIKALAU ALLAH PENCIPTA LANGIT DAN BUMI ITU ADALAH ALLAH YANG MAHA SUCI DIA JUGA TIDAK MUNGKIN BISA MEMBIARKAN ORANG YANG BERSALAH TANPA ALLAH MENGHUKUM ORANG TERSEBUT KARENA DIA ADALAH PRIBADI YANG TIDAK BISA MENYANGKAL SIFATNYA DAN HAL INILAH YANG TIDAK PERNAH DIMENGERTI OLEH PARA AHLI FILSAFAT,OLEH SEBAB ITU ANTARA FILSAFAT DUNIAWI DAN AGAMA YANG BENAR TIDAK MUNGKIN BISA BERGANDENGAN DENGAN AGAMA YANG MENGAJARKAN KEBENARAN YANG TERTINGGI DAN KEBENARAN YANG TERTINGGI ITU HANYA ADA DIDALAM ALKITAB….! KITAB SUCI INI LEBIH DARIPADA APAPUN JUGA KEBIJAKSANAANNYA SEBAB PENULISANNYA DIILHAMI OLEH ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI DAN ALLAH YANG MAHA BIJAKSANA DAN LEBIH BIJAKSANA DARIPADA SIAPAPUN JUGA SEDANGKAN FILSAFAT ITU HANYA PENGAJARAN MANUSIA DENGAN OTAKNYA YANG TERBATAs dan tidak menyelidiki dan mau tahu siapakah pencipta langit dan bumi itu….

Leave a Reply