Menyembah Teks
Kitab Suci adalah sarana pewarisan nilai-nilai budaya dari sebuah ajaran agama yang diwariskan secara turun-menurun dan sistematis. Lewat teks-teks yang tercantum dalam kitab suci, manusia mendapatkan cara yang termudah untuk mempelajari agama. Diakui maupun tidak, teks dalam kitab suci yang konon ditulis oleh para nabi, mesias, avatar dan utusan lainnya, tidak lepas dari konteks zaman, politik, adat dan budaya pada saat penulisan teks suci tersebut dilakukan. Walaupun kitab suci dipercaya sebagai curahan dari Sang Tuhan, dalam penulisannya tak lepas dari peran serta manusia. Sesuai dengan teori komunikasi bahwa setiap kali terjadi proses pengoperan pesan yang melalui berbagai media, selalu diikuti dengan terjadinya reduksi pada pesan tersebut. Manusia sekalipun diberi gelar nabi, tetaplah manusia yang masih bisa salah. Menganggap nabi sempurna tampa ada sedikitpun cacat dan kesalahan adalah bentuk mengingkaran terhadap sifat Ke-Maha-an Tuhan. Jadi menganggap teks dalam kitab suci adalah sesuci Tuhan sendiri adalah sebuah kebodohan.
Keadaan hidup, suhu politik, budaya, sifat dan emosi si penulis akan memberi pengaruh pada cara atau karakter penyampian pesan dari Tuhan dalam teks kitab suci. Kumpulan Ajaran Tao ditulis oleh guru-guru yang tinggal jauh dari keramaian, dipegunungan dan hutan-hutan, maka pesan dari Sang Tuhan datang dalam kata-kata yang penuh dengan kelembutan, keselarasan dan kesemibangan hidup. Ajaran budha yang muncul melalui olah batin dan mati raga memberikan kakater ajaran yang mempunyai sifat sabar, rendah hati dan penuh belas kasih. Ajaran kristen yang muncul dari sebuah masyrakat yang sedang berada dalam kungkungan penguasa politi dan agama, membawa karakter ajaran yang kritis dan revolusioner. Islam yang muncul ditengah alam gurun yang ganas, diantara suku-suku nomaden dan ditulis oleh para pemegang kekuasaan, melahirkan ajaran yang terdiri dari hukum-hukum yang detail, bersifat keras dan tegas. Tuhan yang Satu menyampaikan sabdanya kepada manusia-manusia diperbagai belahan dunia dengan sifat dan keadaan hidupnya masing-masing. Tuhan yang Satu menyampaikan satu hal yang sama yaitu agar manusia mencintai Penciptanya, alam semesta, dan sesamanya manusia. Pesan global tersebut kemudian diterjemahkan dalam versinya masing-masing melalui agama-agama dan kitab sucinya.
Pesan Global Tuhan tentang cinta melalui agama-agama, seharusnya bisa mewarnai dunia dengan kedamaian dan cinta. Tetapi pada kenyataannya, justru sering kali agama dijadikan landasan untuk menciptakan konflik. Agama-agama mencari pembenaran berbagai macam tindak kekerasan dengan mengatasnamakan kepatuhan terhadap perintah tuhan yang termuat dalam teks-teks kitab sucinya. Semua konflik yang timbul dari agama adalah bersumber pada pemahaman teks kitab suci yang tekstual. Manusia bodoh dipermudah dalam mempelajari sesuatu dengan disuruh menghapal teks, tanpa tahu arti yang terkandung didalamnya. Pemahaman agama yang menitik beratkan pada kepatuhan buta pada teks kitab suci, akan membawa ke dalam kehidupan beragama yang fanatis dan bodoh. Hal ini justru akan meminggirkan Sang Tuhan sebagai Sang Sumber Ajaran. Tuhan tampil dikehidupan manusia sebagai sosok yang bodoh dan tidak layak untuk disembah.
Bahaya dari pemahaman agama secara tekstual sangatlah nyata. Hal ini terus terjadi dan menjadi bagian dari sejarah serta masa depan manusia. Berbagai kasus kekerasan dengan dalih agama terus ada sepanjang zaman, dari era perang salib, pembunuhan para ilmuwan yang dirasa menyimpang dengan teks kitab suci, perang Inggris – Spanyol, perburuhan penyihir wanita di Salem, perbudakan, perang utara-selatan di Amerika, konflik di pakistan, konflik di afganistan, konflik Israel – Palestina, konflik Inggris – Irlandia, konflik Poso, pemberontakan Moro, bom Bali, bom malam Natal, munculnya Jemaah Islmiyah, pengeboman menara kembar WTC, pembakaran rumah ibadah, penyerangan jemaah amadiyah, kekerasan brutal FPI, dll. Dengan serentetan konflik berdarah tersebut, Tuhan seakan-akan begitu bodoh telah salah menciptakan agama. Atau malah Tuhan terkesan begitu kejam, sehingga Ia begitu senang, menikmati dan merestui segala macam konflik yang berasal dari ajaranNya tersebut? Untuk itu, mari kita telaah kebohohan Tuhan jika manusia hanya menjalankan ajaranNya secara tekstual semata ;
Matius 5:39, Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
Secara Tekstual : Tuhan begitu bodoh senang melihat umatnya menderita! Sudah sakit ditampar pipi kanannya, disuruh juga memberikan pipi kirinya juga untuk ditampar!
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan untuk mengalah. Mengalah kadang terasa lebih menyakitkan dari pada melawan tetapi harus kalah. Tuhan juga mengajarkan bahwa kekerasan dibalas dengan kekerasan tidak menyelesaikan masalah.
Markus 9:47, Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,
Secara Tekstual : Tuhan begitu kejam, jika mata kita mengajak kita kearah perbuatan dosa, kita harus mencungkil mata kita supaya terhindar dari neraka. (Bila ini dipraktekkan secara harafiah oleh pengikut Kristus, bisa dipastikan sepertiga dari penduduk bumi hanya mempunyai satu mata!)
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan manusia untuk berani menghindari dan menghilangkan hal-hal yang bisa mengarahkan manusia jatuh dalam perbuatan dosa, sekalipun hal tersebut dirasa sangat menyenangkan atau sangat penting untuk kehidupan manusia. Mencungkil mata sendiri juga mempunyai arti bahwa tindakan menjauhi dosa harus berawal dari diri sendiri, yaitu melalui mengorbankan ego dan berintropeksi. Quran 9:123, Hai orang-orang yang beriman, bunuhlah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.
Secara Tekstual : Tuhan mengajarkan Umat Islam untuk membunuhi orang-orang kafir. Jika kafir juga diartikan secata tekstual sebagai golongan agama selain Islam, maka Tuhan memerintahkan untuk memusnahkan semua manusia selain yang beragama Islam.
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan untuk membunuh sifat-sifat kafir dalam hati setiap manusia. Sifat-sifat kekafiran adalah sikap yang bertolak belakangan sikap ikhlas dan penyerahan diri dalam kekuasaan Allah. Yang diperangi dan dimatikan adalah sikap mentalnya bukan manusianya.
Secara Tekstual : Tuhan begitu kejam, jika mata kita mengajak kita kearah perbuatan dosa, kita harus mencungkil mata kita supaya terhindar dari neraka. (Bila ini dipraktekkan secara harafiah oleh pengikut Kristus, bisa dipastikan sepertiga dari penduduk bumi hanya mempunyai satu mata!)
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan manusia untuk berani menghindari dan menghilangkan hal-hal yang bisa mengarahkan manusia jatuh dalam perbuatan dosa, sekalipun hal tersebut dirasa sangat menyenangkan atau sangat penting untuk kehidupan manusia. Mencungkil mata sendiri juga mempunyai arti bahwa tindakan menjauhi dosa harus berawal dari diri sendiri, yaitu melalui mengorbankan ego dan berintropeksi. Quran 9:123, Hai orang-orang yang beriman, bunuhlah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.
Secara Tekstual : Tuhan mengajarkan Umat Islam untuk membunuhi orang-orang kafir. Jika kafir juga diartikan secata tekstual sebagai golongan agama selain Islam, maka Tuhan memerintahkan untuk memusnahkan semua manusia selain yang beragama Islam.
Secara Kontekstual : Tuhan mengajarkan untuk membunuh sifat-sifat kafir dalam hati setiap manusia. Sifat-sifat kekafiran adalah sikap yang bertolak belakangan sikap ikhlas dan penyerahan diri dalam kekuasaan Allah. Yang diperangi dan dimatikan adalah sikap mentalnya bukan manusianya.
Tekstual dan Kontekstual merupakan dua cara memahami perintah Tuhan yang mempunyai efek yang luar biasa berbeda. Mengajarkan umat untuk bisa memahami sebuah ayat secara kontekstual dengan tanpa keluar dari koridor-koridor nilai yang terkandung didalamnya memang tidak mudah dan memakan waktu yang lama. Memang sangat lebih mudah untuk mengajarkan umat supaya hapal teksnya saja. Pemahaman hakiki dari sebuah ayat adalah hasil dari perenungan pribadi dengan bantuan penerangan batin dari SumberNya. Peran pemuka agama hanya sebatas mengarahkan dan memberikan panduan supaya pemahaman tersebut tidak lepas dari hakikatnya. Tetapi banyak dari pemuka agama yang mengambil peran sebaliknya. Mereka mendominasi dan memaksakan arti dari sebuah ayat kepada umatnya. Umat hanya boleh patuh secara total, tanpa boleh berpikir secara kritis sedikitpun.
Berdalih untuk menjaga kesucian sabda Tuhan, pemuka agama melarang keras timbulnya interprestasi yang up to date terhadap sebuah ayat dalam kitab suci. Mereka-mereka yang berani untuk menggali lebih dalam dari apa yang telah tertulis dalam kitab suci dengan pemahaman-pemahaman kekinian, justru dianggap sesat dan menyesatkan. Memang efek yang timbul dari sebuah pemikiran kristis terhadap teks agama adalah timbulnya pertanyaan-pertanyaan yang ontologis terhadap ajaran-ajaran tersebut. Jika si pemikir merasa tidak mendapatkan jawaban, ditakutkan kalau nantinya malah memilih jalan yang menyimpang dari nilai-nilai agama. Tampaknya para pemuka agama merasa ogah kerepotan melayani pertanyaan-pertanyan dari buah pemikiran umatnya. Atau mereka terlalu bodoh untuk bisa membimbing umat menuju kearah pencerahan yang sejati?! Gerakan untuk mempertahankan ajaran agama hanya sebatas teks, adalah bukan merupakan ketidaksengajaan atau akibat dari kebodohan semata. Hal ini dilakukan secara sitematis dan berkesinambungan oleh orang-orang tertentu. Umat dikondisikan untuk tetap bodoh agar mudah disetir dan untuk menjaga supaya para pemuka agama kelihatan lebih pandai dari umat umumnya. Gerakan semacam ini harus segera dihentikan. Karena selain rawan tibul konflik antar agama, gerakan ini mendadani muka Tuhan dengan topeng kebodohan dan kekejaman. Terjebak dalam teks keagamaan justru menghalangi kita untuk merasakan keagungan dari kuasa Tuhan. Silahkan memilih jalan! Anda mau mengabdi pada teks, atau mengabdi kepada Tuhan!!??
Berdalih untuk menjaga kesucian sabda Tuhan, pemuka agama melarang keras timbulnya interprestasi yang up to date terhadap sebuah ayat dalam kitab suci. Mereka-mereka yang berani untuk menggali lebih dalam dari apa yang telah tertulis dalam kitab suci dengan pemahaman-pemahaman kekinian, justru dianggap sesat dan menyesatkan. Memang efek yang timbul dari sebuah pemikiran kristis terhadap teks agama adalah timbulnya pertanyaan-pertanyaan yang ontologis terhadap ajaran-ajaran tersebut. Jika si pemikir merasa tidak mendapatkan jawaban, ditakutkan kalau nantinya malah memilih jalan yang menyimpang dari nilai-nilai agama. Tampaknya para pemuka agama merasa ogah kerepotan melayani pertanyaan-pertanyan dari buah pemikiran umatnya. Atau mereka terlalu bodoh untuk bisa membimbing umat menuju kearah pencerahan yang sejati?! Gerakan untuk mempertahankan ajaran agama hanya sebatas teks, adalah bukan merupakan ketidaksengajaan atau akibat dari kebodohan semata. Hal ini dilakukan secara sitematis dan berkesinambungan oleh orang-orang tertentu. Umat dikondisikan untuk tetap bodoh agar mudah disetir dan untuk menjaga supaya para pemuka agama kelihatan lebih pandai dari umat umumnya. Gerakan semacam ini harus segera dihentikan. Karena selain rawan tibul konflik antar agama, gerakan ini mendadani muka Tuhan dengan topeng kebodohan dan kekejaman. Terjebak dalam teks keagamaan justru menghalangi kita untuk merasakan keagungan dari kuasa Tuhan. Silahkan memilih jalan! Anda mau mengabdi pada teks, atau mengabdi kepada Tuhan!!??